Oleh: mphee89 | Juli 23, 2011

Opini Publik

Opini Publik Kasus Hakim Syarifudin

Hakim kepailitan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Syarifudin Umar tidak asing dengan perkara korupsi. Jauh sebelum ditangkap KPK atas dugaan menerima suap dari kurator PT Sky Camping Indonesia, Puguh Wirayana awal Junii lalu, ada puluhan perkara korupsi yang pernah ditangani dan diputuskannya. Kiprah Hakim Syarifuddin “Selama berdinas di PN Makassar dan Jakarta, Syarifuddin Umar membebaskan 39 terdakwa kasus korupsi,” ujar Wakil Koordinator Indonesian Corruption Watch (ICW), Emerson Junto, kepada wartawan KPK (Jumat, 3/6).
Perkara korupsi terakhir yang diputus bebas oleh Syarifuddin adalah perkara Agusrin Najamuddin, Gubernur Bengkulu non aktif dengan tuduhan korupsi kas daerah Pemprov Bengkulu. Syarifuddin sendiri, dalam kasus yang ditaksir telah merugikan kas negara sebesar Rp 20,16 miliar itu tak lain menjadi ketua hakimnya. Agusrin yang semula dituntut pidana penjara 4,5 tahun dan denda sebesar Rp 500 juta dinyatakan bebas. Terkait vonis itu, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung Noor Rachmad juga telah mengajukan mendaftarkan kasasi.
Berdasarkan catatan Indonesian Curruption Watch (ICW), hakim Syarifuddin telah membebaskan 39 ‘koruptor’. Para terdakwa kasus korupsi yang dibebaskan itu dilakukan Syarifuddin saat bertugas di PN Makassar dan PN Jakarta Pusat. Sebanyak 39 terdakwa koruptor yang dibebaskan hakim Syarifuddin itu terbagi dalam 7 kasus (perkara). Pertama, kasus Bisnis Voice Over Internet Protovol (VOIP) yang diperkarakan di PN Makasar dengan kerugian negara mencapai Rp44,9 miliar. Terdakwanya adalah Koesprawoto (mantan Devisi Regional VII PT Telkom), Heru Suyanto (mantan Ketua Koperasi Karyawan Siporennu), dan Eddy Sarwono (mantan Deputi Kadivre VII). Kedua, kasus Kredit Fiktif BNI di PN Makasar, dengan kerugian negara Rp 27 miliar. Terdakwanya masing-masing H Tajang dan Basri Adbah (Direktur PT A’Tiga). Ketiga, kasus pengadaan pupuk 12.000 ton di PN Makassar, dengan terdakwa Damayanto Sutejo (mantan Direktur Pemasaran PTPN XIV).
Keempat, kasus dana APBD 2003-2004 pada pos anggaran bantuan kemasyarakatan dan dana penghubung di PN Makasar, dengan kerugian negara Rp 630 juta. Terdakwanya, LC Palimbong (mantan Wakil Bupati Tana Toraja 1999-2004), Kelima, kasus penyimpangan dana nasabah BRI di PN Makassar, dengan kerugian negara Rp 3,6 miliar. Terdakwanya, Darmawan Darabba (mantan Teller Bank BRI Sombaopu) Keenam, kasus APBD Kabupaten Luwu Tahun 2004 yang diperkarakan di PN Makassar, dengan kerugian negara Rp 1,5 Miliar. Terdakwanya, 28 mantan anggota DPRD Luwu periode 1999-2004. Ketujuh (terakhir), kasus korupsi dana pajak bumi dan bangunan serta bea perolehan hak atas tanah dan bangunan di PN Jakarta Pusat, dengan kerugian negara Rp22, 5 miliar. Terdakwanya, Gubernur Bengkulu (non aktif) Agusrin Najamuddin.
Wakil Koordinator ICW, Emerson Yuntho, menyatakan hakim Syarifuddin juga juga pernah dilaporkan ke Komisi Yudisial (KY) terkait vonis bebas kasus korupsi dan dugaan suap dalam penanganan kasus korupsi yang melibatkan mantan anggota DPRD Luwu Sulawesi Selatan. “Tapi, perkembangan selanjutnya tidak jelas,” ungkap Emerson dalam rilisnya yang diterima wartawan di Jakarta, Jumat (3/6).

Opini Public Tentang Kasus Syarifudin

Melalui kasus Syarifuddin, publik melihat bahwa penegakan hukum di negeri ini berada di tabir jurang kegagalan. Penangkapan Syarifuddin semakin membuktikan hukum tidak berjalan karena lembaga yang mesti mengawalnya malah korup. Ada dua titik yang paling bahaya kalau dijangkiti oleh korupsi. Pertama, sektor penegakan hukum karena dia mengawal, memutus, dan memproses kejahatan. Sektor kedua adalah politik karena sektor ini menempatkan orang sebagai menteri dan birokrasi kelas atas yang hari ini mengambil keputusan di negeri ini.
Di kepolisian dan kejaksaan juga tak banyak berbeda. Malah Presiden sebagai pemegang kekuasaan eksekutif tertinggi seperti tak banyak berbuat terhadap kasus yang mendera kepolisian dan kejaksaan. Kasus rekening gendut di kepolisian tak pernah ditindak lanjuti. Sementara di kejaksaan, Presiden tak mampu menunjuk jaksa agung yang punya iktikad dan komitmen terhadap pemberantasan korupsi. Penangkapan politisi, jaksa, dan hakim semestinya jadi catatan Presiden membersihkan institusi yang ada di bawahnya langsung.

Alasan Masyarakat Meributkan Kasus Syarifudin

Dimanapun, lembaga peradilan diharapkan menjadi tempat bagi masyarakat mendapatkan keadilan dan menaruh harapan. Namun, realitanya jauh dari harapan. Justru, pengadilan dianggap sebagai tempat yang berperan penting menjauhkan masyarakat dari keadilan. Orang begitu sinis dan apatis terhadap lembaga peradilan. Harapan akan memperoleh kebenaran dan keadilan pun pupus ketika ditemukan adanya permainan sistematis yang diperankan oleh segerombolan orang yang bernama mafia peradilan.
Pada saat yang bersamaan masyarakat juga melihat adegan yang melukai rasa keadilan. Koruptor kakap banyak yang dibebaskan berkeliaran, sementara pencuri kelas teri hampir tak pernah lolos dari hukuman. Tidak hanya itu, saat ini mencari keadilan seperti mencari sebatang jarum yang hilang dalam tumpukan jerami, rumit, berbelit-belit, penuh tikungan dan jebakan, yang berujung kekecewaan dan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap hukum. Menumpuknya belasan ribu perkara di Mahkamah Agung , tidak hanya menunjukkan banyaknya permasalahan hukum dan kejahatan di negeri ini, akan tetapi juga karena panjang dan berbelitnya proses peradilan.
Penangkapan terhadap Hakim Syarifuddin oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menunjukkan betapa bobroknya lembaga peradilan di Indonesia. Secara terang benderang publik melihat borok di lembaga peradilan tanah air dan semakin tidak mempercayai lembaga tersebut. Indonesia Corruption Watch (ICW) dalam penelitiannya menemukan adanya pola mafia peradilan yang terjadi dari tingkat pertama, banding, sampai kasasi. Peneliti ICW, Febri Diansyah, Minggu (5/6/2011), di kantor ICW, Jakarta, menjelaskan bahwa di dalam tahap mendaftarkan perkara, pola terjadi yakni permintaan uang jasa. “Uang itu ditujukan agar perkara mendapatkan nomor perkara awal, jadi panitera harus diberikan uang pelicin,” ungkap Febri. Di dalam tahap persidangan, pola mafia peradilan yang dilakukan yakni dengan penentuan majelis hakim favorit. Biasanya untuk perkara-perkara “basah”, ketua PN akan turun tangan dan bertindak langsung sebagai ketua majelis hakim. Selanjutnya, panitera diminta menghubungi hakim tertentu yang bisa diajak kerja sama. Pengacara langsung bertemu dengan ketua PN untuk menentukan majelis hakim. Pada tahapan putusan, pola mafia yang dilakukan adalah dengan menegosiasikan putusan. Vonis dapat diatur melalui jaksa dalam sistem paket atau langsung ke hakim. Lalu, hakim meminta uang kepada terdakwa dengan imbalan akan meringankan vonis.

Nama : Novi Wastiningsih
NIM : 0735160058
Tugas : Opini Public ( Pengaruh Kekuatan Opini Public di Masyarakat )

Pengaruh Kekuatan Opini Public Terhadap Pendidikan

Sekarang ini dunia pendidikan sedang dilema dengan adanya Ujian Nasional. Ujian Nasional yang dianggap oleh pemerintah bertujuan untuk meningkatkan SDM justru menimbulkan beberapa masalah pada saat pelaksanaan.
Opini public yang berkembang di masyarakat mengenai system ujian nasional adalah, bahwa ujian nasional terasa tidak adil. Ujian nasional menjadi sesuatu yang mengerikan bagi sebagian siswa dan sekolah yang jauh dari fasilitas pendidikan yang memadai. Dengan fasilitas yang seadanya tentu akan terasa berat bagi para siswa memenuhi standar kelulusan yang ditetapkan oleh pemerintah.
Selain mengenai tidak meratanya kemampuan setiap sekolah, ujian nasional juga menjadi dilema pada saat pengawasan pelaksanaan ujian serta keamanan pendistribusian soal ujian kesekolah-sekolah seluruh Indonesia.
Banyak pengawas yang membiarkan para siswa mencontek pada saat pelaksanaan ujian. Hal ini disebabkan karena para pengawas merasa kasihan melihat siswa yang stress mengerjakan soal-soal ujian. Sementara dimasyarakat juga marak terjadi jual beli kunci jawaban yang tentunya masih diragukan kebenaranya.
Dengan adanya opini public seperti ini, banyak media yang memuat berita tentang ujian nasional bahkan banyak stasiun televisi yang membuat talk show dan diskusi tentang ujian nasional dengan. Talk show ini menarik karna menghadirkan pembicara-pembicara yang kompeten di bidang pendidikan.
Maraknya pemberitaan ujian nasional membuat pemerintah mencari jalan keluar dari dilema ujian nasional. Pemerintah memperbaiki system pengawasan dan distribusi soal-soal ujian nasional agar tidak bocor ke masyarakat.
Selain itu pemerintah juga mengucurkan dana bantuan kepada sekolah-sekolah yang terbelakang guna memperbaiki ataupun melengkapi fasilitas pendidikan. Dengan fasilitas yang memadai diharapkan para menunjang proses belajar mengajar. Hal ini bertujuan untuk ,meningkatkan SDM masyarakat Indonesia sehingga dapat bersaing dengan di dunia global.

Oleh: mphee89 | Juli 23, 2011

Etika dan Filsafat Komunikasi


Etika dan Filsafat Komunikasi

Etika
Etika berasal dari kata ta etha yang merupakan bentuk jamak dari ethos yang berarti adat kebiasaan. Secara etimolohgis etika sama dengan kata moral yang berarti adat atau kebiasaan.
Etika memiliki arti :
1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak serta kewajiban moral (akhlak)
2. Kumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
3. Nilai mengenai tindakan yang benar dan salah yanh dianut suatu golongan masyarakat (berfokus pada konteks aksiologinya)
Sebuah teori etika tidak mengatakan pada seseorang apa yang harus dilakukanya pada situasi tertentu, tapi ia juga tidak diam sama sekali. Teori etika mengatakan apa yang harus dipertimbangkan untuk memutuskan apa yang harus dilakukan.
Fungsi praktis dari teori etika adalah untuk mengarahkan perkataan kita pada pertimbangan yang relevan, alasan-alasan yang menentukan atas suatu tindakan.

Filsafat Komunikasi
Definisi filsfat dari beberapa pakar:
1. Plato (427-384 SM), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.
2. Aristoteles (382-322 SM), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung didalam ilmu-ilmu (metafisika, logika, etika, retorika, ekonomi, politik, dan estetika).
3. Al Farabi (870-950 M), filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekatnya yang sebenar-benarnya. Maujud=kongkrit.
4. Rene Descrates (1590-1650 M), filsafat adalah segala pengetahuan dimana Tuhan, alam , dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
5. Immanuel Kant (1724-1804 M), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala ilmu pengetahuan yang tercakup didalam 4 persoalan :
• Apakah yang dapat diketahui (jawaban=metafisika)
• Apakah yang seharusnya kita ketahui (jawaban=etika)
• Apakah/sampai dimanakah harapan kita (jawaban=agama)
• Apakah yang dinamakan manusia (jawaban=antropologi)

Menurut I. R. Poedjewijatna filsafat adalah ilmu yang mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Sedangkan filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, sistematis, analisis, krisis, dan holistic teori serta proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatananya, tujuanya, fungsinya, dan tekniknya serta metodenya.
Cabang Filsafat Dalam Komunikasi:
1. Metafisika
Suatu usaha memperoleh yang benar tentang kenyataan-kenyataan itu luas, maka dibagi menjadi 3 yaitu; ontology (menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental), kosmologi (menyelidiki jenis tata tertib yang fundamental), dan anthropologis (menyelidiki hal yang berkaitan dengan manusiadan pentingnya bagi alam semesta).
2. Methodologis
Metode filsafat yaitu tidak ada yang khas dan bebas cari keterangan.
3. Epistemologis
Logika materiil dimana membahas isi pikiran manusia.
4. Etika
Meliputi kesadaran moral dan kesadaran etis. Dimana kesadaran etis meliputi normatif kritik dan tanggapan.
5. Logika
Berasal dari kata logos yaitu pikiran / pernyataan pikiran. Artinya suatu cara kerja apakah valid tidak valid, bentuk pikiran dan cara kerjanya.
6. Estetika
Terdiri dari komsep penciptaan, pengharagaan, peranan sosial, sikap estetik, kenikmatan estetik, dan tanggapan estetik.

Etika Komunikasi

Tujuan Dimensi-dimensi etika komunikasi
 Nilai-nilai demokrasi
 Hak untuk berekspresi
 Hak public untuk informasi yang benar

Sarana Aksi
 Kesadaran moral atau nurani actor komunikasi
 Deontology jurnalisme
 Tatanan hukum dan institusi
 Hubungan-hubungan kekuasaan
 Tren sosial, komisi pengawasan

Keterangan
1. Etika komunikasi merupakan bagian dari upaya untuk menjamin nilai demokrasi / otonomi demokrasi
2. Etika komunikasi tidak berhenti pada mengelak perilaku aktor komunikasi
3. Etika komunikasi berkaitan juga dengan praktek institusi hukum, komunikasi, sruktur sosial, politik, dan ekonomi serta etika strategi dalam bentuk regulasi.
Tiga prinsip deontologi jurnalisme:
1. Hormat dan perlindungan hak warga negara akan informasi dan sarana-saran ayng perlu untuk mendapatkanya. Masuk dalam kategori ini adalah:
 Perlindungan atas sumber berita
 Pemberitaan informasi yang tepat dan benar
 Jujur dan lengkap
 Perbedaan antara factor dan komentar
 Perbedaan antara informasi dan opini
Sedangkan mengenai cara untuk mendapataknya harus jujur dna pantas serta harus dapat menolak jika hasil curian, menyembunyikan, menyalahgunkan kepercayaan, dengan menyamar pelanggaran terhadap rahasia profesi.
2. Hormat dan perlindungan atas hak individual lain dari warga negara. Termasuk dalam hal ini:
 Hak akan martabat dan kehormatan
 Hak atas kesehatan fisik dan mental
 Hak konsumen dan hak untuk berekspresi dalam media
 Serta hak jawab
Selain itu haru smendapat jaminan hak akan privacy, praduga tak bersalah, hak akan reputasi, hak akan citra yang baik, hak bersuara dan hak untuk rahasia bekomunikasi.jika hak akan informasi tidak bisa member pembenaran pada upaya yang akan merugikan pribadi seseorang. Setiap orang memiliki hak untuk menolak dan mnyebarkan identitasnya.
3. Ajakan untuk menjaga harmoni masyarakat. Unsure ketiga deontology ini melarang semua bentuk provokasi atau dorongan yang akan membangkitkan kebencian atau ajakan pada pembangkangan sipil.
Tujuan etika komunikasi:
1. Untuk membongkar bentuk demokrasi sehingga martabat manusia selalu dihormati
2. Memungkinkan akses keruang public suara yang dibungkam
3. Menentang kebebasan agar bisa mengembangkan kreatifitas
Ada tiga syarat yang memungkinkan etika komunikasi:
1. Media mempunyai kekuasaan yang besar dan berpengaruh terhadap publiknya
2. Etika ingin melindungi public yang lemah
3. Merupakan upaya untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab demi antisipasi terhadap monopoli kritik dari media.

Mengapa Dibutuhkan Etika Komunikasi ?
Media, media massa, dan pers pasti memiliki idealism yaitu memberikan informasi yang benar. Dan media ingin bertindak sebagai sarana pendidikan. Namun idealism diwarnai oleh struktur pemaknaan ekonomi, seperti :
1. Dinamisme komersial, yang menjadi kekuatan dominan penentu makna pesan
2. Pimpinan media
3. Logika mode
4. Logika pasar
5. Logika waktu pendek
Etika komunikasi menjamin kebebasan berkomunikasi di ruang public dan tersedianya informasi yang benar. Etika komunikasi meliputi:
• Kehendak baik wartawan/pelaku informasi
• Konsruksi sosial
• Deontology profesi
Informasi yang benar akan mencerahkan kehidupan manusia. Informasi yang cerah itu memberikan pertimbangan kepada individu dalam mengambil keputusan dari berbagai kemungkinan yang ada. Informasi yang tepat akan menjadi sarana pendidikan yang efektif.
Disinilah etika komunikasi berperan dalam mengontrol media. Media yang menjadi sarana vital untuk memperoleh informasi. Dengan persaingan media ynag berdasarkan logika pasar (berita yang terlambat adalah bukan berita) dapat mengahalangi hak public untuk memperoleh informasi yang benar.
Media dapat mengubah 3 hal, yaitu :
1. Integrasi sosial.
Media menyebarkan gagasan pembebasan tetapi didasari nilai-nilai hedonis (kenikmatan dan kepuasan rasa). Hedonism individualis mengabaikan control sosial dari instansi tradisional sehingga nilai tradisional meredup.
2. Reproduksi budaya
Akan selalu berubah agar bisa tetap efektif untuk bertahan hidup dan bukan untuk tujuan suatu hal yang utopis (kemurnian idealisme)
3. Partisipasi politik
Media menyebutkan gaya hidup dimana system representasi menjadi objek konsumsi. Konsumerisme dan sikap skeptic mudah merubah pandangan seseorang. Identitas seseorang dapat berubah dalam kebebasan yang tidak mengikat.

Oleh: mphee89 | Juli 22, 2011

Pertarungan Elite dalam Bingkai Media

Referensi Buku Pertarungan Elite dalam Bingkai Media
Karya DR. Hasrullah, MA

Disusun oleh:

Novi Wastiningsih ( 07351600.58 )
Tugas Sosiologi Komunikasi
FISIP ANGK X

Universitas 17 Agustus Jakarta

Judul Buku: Pertarungan Elite dalam Bingkai Media
Penulis: DR. Hasrullah, MA
Penerbit: Adil Media
Cetakan: Cetakan I, Maret 2010
Tebal: 144 Hal

Menurut Soerjono Soekanto ( Soekanto, 1992: 471 ), sosiologi komunikasi merupakan kekhususan sosiologi dalam mempelajari interaksi sosial yaitu suatu hubungan yang menimbulkan proses saling pengaruh-menpengaruhi antara para individu, individu dengan kelompok maupun antar kelompok. Menurut beliau komunikasi sosiologi juga ada kaitanya dengan public speaking, yaitu bagaimana seseorang berbicara kepada publik.
Secara komprehansif Sosiologi Komunikasi mempelajari tentang interaksi sosial dengan segala aspek yang berhubungan dengan menggunakan media, bagaimana efek media sebagai akibat dari interaksi tersebut, sampai dengan bagaimana perubahan-perubahan sosial di masyarakat yang didorong oleh efek media berkembang serta konsekuensi sosial macam apa yang ditanggung masyarakat sebagai akibat dari perubahan yang didorong oleh media massa itu.
Menurut penjelasan diatas buku Pertarungan Elite dalam Bingkai Media karya Dr. Hasrullah, MA ini lebih banyak menceritakan tentang sosiologi komunikasi yang dilihat dari pengaruh media massa dan public speaking yang dilakukan dalam pemerintahan. Untuk menjelaskan ini, Hasrullah menggunakan contoh-contoh nyata yang ada di sekitar kita.
Buku ini menjabarkan beberapa contoh kongkrit yang di ekspos oleh media yang mempengaruhi masyarakat bahkan hingga terjadinya demonstrasi-demonstrasi penentangan. Diantarany kasus Sulsel, Century, Kenaikan BBM, Dramatisme Politik, Komunikator Politik, Attacking Compaign dan Rasialis, Kepemimpinan Gubernur Sulsel, Konflik antara Polisi dan Mahasiswa di Sulselbar, Media dan Korupsi.

Peristiwa Sulsel

Komitmen mahasiswa terhadap kehidupan sosial adalah sebuah keharusan. Inilah yang dikatakan Mochtar Lubis. Mahasiswa sebagai moral force dalam menyuarakan kepentingan rakyat akan selalu menjadi kekuatan politik sangat dahsyat dalam membongkar praktik-praktik penguasa yang cenderung koruptif, manipulatif, dan kolutif.
Pada tanggaal 28 Januari 2010 disaat mengkritisi 100 hari kinerja SBY-Boediono, kantor gubernur Sulsel tidak hanya dijaga ketat oleh pihak kepolisian tapi juga ada masa sipil yang sengaja didatangkan dari luar kota untuk mengamankan keadaan. Bahkan masa sipil lebih banyak dibandingkan pihak kepolisian.
Sebenernya gubernur adalah sosok maha terpelajar jadi sudah sepantasnya dalam menghadapi mahasiswa harus dengan cara demokrasi elegan dan intelektual misalnya menggunakan wacana, diskusi, orasi, dan membiasakan diri untuk menerima kritik. Sepanjang gerakan mahasiswa murni meneriakan aspirasi politik demi perbaikan dan perubahan, sebagai seorang orator ulung dan lihai berpidato tentu gubernur harusnya mempunyai kiat khusus menghadapi orasi demonstrasi.
Gubernur Sulsel dapat menggunakan dialog dan adu ergumentasi dalam menghadapi mahasiswa, sehingga tercipta understanding dan saling memahami peran masing-masing pihak.
Dari peristiwa diatas kita dapat melihat peran media massa dalam melaporkan peristiwa-peristiwa penting kepada masyarakat yang akhirnya akan menuai pro dan kontra. Yang kontra akan menghasilkan demonstrasi-demonstrasi yang tidak dihadapi dengan cara yang cerdas dan terpelajar akan menghasilkan demonstrasi anarkis.
Selain peristiwa diatas masih banyak peristiwa-peristiwa lain yang disajikan media massa yang mempengaruhi masyarakat luas.
Misalnya pemberitaan penghargaan korupsi yang didapat Sulsel dari Bappenas dan ICW sebagai propinsi terkorup se Nusantara. Temuan lembaga Negara dan lembaga korupsi itu menggegerkan dan merobek hati nurani publik setelah media massa didaerah ini ikut memainkan fungsi surveillance (pengawasan) terhadap symptom sosial yang memuakan setelah kita memperingati hari anti korupsi.
Disaat peristiwa ini diketahui oleh media, banyak media massa yang memuat pemberitaan ini dengan framing yang berbeda. Misalnya harian Fajar di edisi 14 Desember 2009 memuat berita Sulsel adalah lahan subur korupsi, Koran Tempo edisi 11 Desember 2009 menyajikan ilustrasi gambar seorang pejabat yang bersimbolkan Propinsi Sulsel dengan kalungan medali tikus. Bukan ini saja, media massa membentuk opini public bahwa korupsi di daerah ini mestinya membuat malu rakyat kita utamanya pemerintah yang ikut bertanggung jawab terhadap predikat propinsi terkorup. Apalah artinya selama ini kita mendapatkan 55 penghargaan namun jika penghargaan itu hanya dijadikan alat promosia (propaganda politik) sebagai keberhasilan pemerintah Sulsel. Sayang dibalik itu semua rakyat Sulsel mendapatkan penghargaan menjijikan dan memuakan jati diri kita.
Gubernur Sulsel tetap membantah dan tak percaya jika pemerintahan yang dipimpinnya paling banyak korupsinya. Walaupun baliho betuliskan “ Mari bangun negeri tanpa korupsi… “ didepan gedung DPRD Sulsel dan Kantor Gubernur, ini hanya menjadi pesan propaganda yang bersembunyi dibalik slogan korupsi.
Banyaknya media massa yang memberitakan penghargaan korupsi ini membuat banyak kalangan masyarakat memiliki image negative untuk Sulsel. Muncul berbagai pendapat public negative dan wacana yang ditunjukan untuk Sulsel.
Media massa tidak hanya menjadi fasilitator pembentukan opini public sebuah peristiwa namun lebih dari itu media massa juga menjadi fasilitator pembentukan image kandidat dalam pemilihan pilkada. Pada masa pilkada media massa banyak dijadikan media untuk mempromosikan para kandidat.
Tingginya tingkat popularitas akan menaikan elektrabilitas untuk terpilih sebagai pemenang. Maka tidak heran pada setiap musim pilkada banyak dijumpai setiap sudut kota terpampang baliho. Hal yang sama juga terlihat pada media cetak dan media elektronik. Kita akan menjumpai iklan promosi kandidat, dimuatnya pemberitaan visi misi seorang kandidat. Singkat kata, aktor politik yang maju menjadi kandidat bupati atau gubernur iklan menjadi personal branding untuk meraih kekuasaan.
Walaupun biaya iklan sangat tinggi, iklan tetap menjadi alat favorit untuk promosi kandidat. Biaya iklan berkolerasi dengan modal, jadi kandidat tentu mempunyai banyak modal untuk mencalonkan diri dalam pilkada.
Aspek lain yang biasanya disorot media adalah Daftar Pemilih Tetap (DPT) , gesekan antar pendukung, kampanye negative, mobilisasi suara pendukung, sampai pada masalah ijazah palsu.
Semua cara yang dilakukan para kandidat hanya bertujuan untuk mempengaruhi masyarakat agar memilih dia saat pemilihan. Namun dibalik itu semua untuk saat ini yang paling efektif adalah dialog langsung antara kandidat dan pemilih. Dalam dialog ini kandidat dapat menampilkan jati dirinya yang terlihat dalam komunikasi yang jujur. Dengan kata lain kandidat tidak lagi bersembunyi lagi dalam polesan iklan dan menampakan kebohongan jati dirinya. Karena rakyat sudah pandai menentukan mana sebenarnya pemimpin yang hanya mengandalkan janji politik dan sulit dibuktikan saat sudah berkuasa..

Kasus Century

Terbentuknya opini public bahwa yang paling bertanggung jawab terhadap kasus Century adalah sosok mantan Gebernur Bank Indonesia, Boediono dan mantan Ketua Komite Stabilita Sistem Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. Tingginya terpaan media kepada kedua tokoh tersebut terlihat dengan jelas bagaimana media turut andil mebentuk opini masyarakat bahwa kedua tokoh tersebut adalah tokoh yang paling bertanggung jawab soal dana talangan Bank Century. Pengaruh media ini sangat terasa disaat banyak demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa.
Justifikasi opini public makin terasa setelah hasil kesimpulan hak angket, empat dari sembilan fraksi di Pansus DPR-RI menyebutkan nama Boediono dan Sri Mulyani yang diduga betanggung jawab atas kasus Century. Hal ini mempertegas bahwa kedua tokoh ini bersalah dalam melakukan kebijakan dana talangan.
Dampak opini public yang makin mengental di khalayak akan dipertegas lagi oleh fraksi PDIP, Golkar, Hanura, dan PKS yang memaksa Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan statement politik bahwa dirinya sebagai presiden bertanggung jawab atas kebijakan yang diambil terkait kasus Century. Pernyataan ini sebenernya sudah lama ditunggu public karena sebagai kepala negara dan atasan Boediono dan Sri Mulyani diminta atau tidak beliau pasti mengetahui mengenai lika liku pencairan dana talangan Bank Century.

Kenaikan BBM

Setelah media memberitakan kebijakan pemerintah yang akan menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terjadi demo penentangan kebijakan tersebut. Demo yang dilakukan mahasiswa untuk menolak kenaikan BBM berakhir anarkis. Bentrok antara mahasiswa dan polisi terjadi di Kampus Universitas Nasional (UNAS) Jakarta Selatan, awal April 2009. Media massa melaporakan bentrok mahasiswa dan polisi tidak seharusnya terjadi seandainya kedua belah pihak bisa menahan diri dan tidak melakukan perbuatan brutal.
Lebih parah lagi terjadi di Sulsel untuk menghadapi situasi sulit sebagai dampak kenaikan BBM, Pangdam VII Wirabuana Mayjen TNI Joko Susilo Utomo memberikan pernyataan yang cukup menyakitkan yaitu untuk meredam demonstrasi Pangdam mengancam akan melepaskan peluru tajam. Hal ini menunjukan betapa aspirasi rakyat dikebiri oleh aparat dengan alasan stabilitas keamanan. Padahal dibalik itu, makna yang sebenarnya terkandung yaitu betapa aparat kita mempunyai kinerja yang kurang baik dan tidak memiliki leadership dalam menghadapi era demokratisasi.
Padahal senjata yang paling ampuh dalam era demokratisasi adalah menggunakan pesan politik yang dapat meyakinkan rakyat bahwa kenaikan BBM adalah hal yang sulit dihindari karena masalah naiknya harga BBM dunia hingga 135 dollar per barel.
Sudah sepantasnya para elite penguasa dan elit militer bisa menjadi komunikator yang baik dalam menyampaikan kebijakan yang akhirnya dapat mempengaruhi rakyat menyetujui kebijakan jangan sampai menyakiti hati rakyat yang sudah terbebani kehidupan miskin.
Pihak aparat harus menjaga jati dirinya bahwa tugasnya adalah melindungi rakyat bukan dengan ancaman memberikan peluru tajam. Lebih penting lagi mahasiswa harus menunjukan image yang baik sebagai intelektual muda yang membela kepentingan rakyat kecil dengan cara dalam berdemo harus tetap santun, beradab, dan menghindari sikap anarkis seperti membakar ban, merusak fasilitas umum karena hal ini akan merusak citra diri sebagai intelektual dan calon pemimpin bangsa.

Dramatisme Politik

Panggung politik pasca pemilihan legislative 9 April 2009, diwarnai dengan aroma koalisi dan lobi antar ketua umum partai. Pentas koalisi diawali pada pertemuan Ketua Umum PDIP, Megawati, dengan Ketua Umum Partai Hanura, Wiranto pada tanggal 10 April 2009. keesokan harinya giliran Ketua Partai Umum Gerinda, Prabowo, bertemu dengan Megawati yang tujuannya penjajakan koalisi kesamaan visi dan misi partai maupun membicarakan hal-hal pemilihan presiden yang akan datang.
Pertama, setelah partai Demokrat unggul dalam perhitungan cepat maka otomatis partai ini berada diatas angin sehingga SBY dengan percaya diri yakin sebagai pemenang Pemilu legislative dan memiliki bargaining position untuk menentukan siapa pendamping SBY dalam pemilihan presiden 8 Juli 2009.
Kedua, kolaborasi antar kekuatan mesin politik dengan mesin pencitraan (media massa) sangat menentukan. Siapa aktor yang dapat melakukan keduanya secara simultan akan muncul sebagai pemenang. Secara nyata SBY sudah dapat menaklukan mesin politik dan mesin media massa. Terbukti dengan citra yang dia tampilkan membuat rakyat terutama para wanita simpati dan memilihnya untuk jadi seorang pemimpin.
Ketiga, bagaimana para aktor politik memerankan perannya di panggung politik. Bagaimana para aktor mencitrakan dirinya agar memperoleh suara maksimal dari rakyat. Selain itu para aktor juga harus pandai berkomunikasi agar dapat mempengaruhi partai lain dan akhirnya bersedia berkoalisi demi menambah power mendapatkan sebuah kekuasaan.
Dari penjelasan ini terlihat jelas bahwa panggung politik adalah milik para aktor dan sutradaranyalah yang akan menikamati kekuasaan. Sedangkan rakyat hanya dimintai amanahnya untuk menggunakan hak pilihnya dan hanya berperan sebagai figuran. Rakyat harus sadar jika yang diuntungkan hanya para aktor dan sutradara, rakyat hanya penonton yang mendapatkan berjuta obral janji.

Komunikator Politik

Dalam perspektif panggung politik, komunikator politik mempunyai peran sosial yang utama. Komunikator politik sebagai pelaku atau diidentifikasi sebagai pemimpin yang memiliki potensi dan kompetensi diatas rata-rata dibandingkan dengan warga negara pada umumnya dalam hal menyampaikan pikiran atau gagasan dimanapun dia berada.
Menurut Karl Popper (1962) seorang pemimpin dapat menciptakan opini public karena mereka mampu membuat beberapa gagasan yang awalnya ditolak namun kemudian dipertimbangkan dan pada akhirnya dapat diterima.
Seorang komunikator politik harus mampu berkomunikasi dengan cara cerdas dalam menyampaikan argument, gagasan, dan pemikiran kepada public sehingga public dapat terpengaruh.
Misalnya sebagai politisi diharapkan mampu melontarkan gagasan yang bisa mempengaruhi kebijakan politik. Seorang politisi yang duduk di lembaga legislative, ia harus mampu memerankan perannya sebagai fungsi control, legislasi, dan anggaran. Ukuranya seberapa besar media massa memberikan porsi pemberitaan tentang aspirasinya dalam menjalankan tugasnya.
Contoh lain misalnya. Maraknya figure calon legislative yang melakukan tebar pesona melalui baliho dan media iklan. Meskipun public tidak mengetahui jati diri kandidat apakah kandidat berpotensi dan berkompeten tetapi tetap saja para kandidat dengan percaya diri memproklamirkan diri sebagai calon anggota legislative.
Para kandidat yang akan bertarung dan berperan di panggung politik tentu harus bisa menjadi komunikator yang baik agar dapat mempengaruhi rakyat untuk memilihnya. Melaui iklan dan media massa para kandidat memaparkan visi dan misi demi memenangkan kekuasaa.
Rakyat juga harus teliti dalam menentukan pilihan jangan sampai kandidat yang terpilih hanya akan mencoreng panggung politik tanah air dengan kepemimpinan yang tidak baik. Rakyat jangan terpengaruh dan harus kolektif, jangan termakan obralan janji yang tak pernah terwujud realisasinya.

Attacking Compaign dan Rasialis

Pernyataan kontroversial Andi Alfian Mallarangeng ketika mendampingi kampanye Boediono di Makassar (7/1/09) menyatakan bahwa yang terbaik menjadi pemimpin saat ini adalah pasangan SBY-Boediono sedangkan anak Sulsel belum saatnya. Ada waktunya nanti anak Sulsel bisa menjadi pemimpin negeri ini.
Berger dan Luckman (1966) menggambarkan pembentukan pesan melalui interaksi dimana manusia menciptakan pesan secara terus menerus terhadap sebuah kenyataan baik objektif maupun subjektif. Artinya setiap statement pesan dimaknai dari sebuah fakta dan realitas.
Maka ketika Alfian mengatakan bahwa anak Sulsel belum saatnya menjadi pemimpin, ini tidak bermaksud untuk mendeskriditkan seorang kandidat presiden. Ketika pernyataan ini sampai pada khalayak , maka khalayak akan mempersepsikan pernyataan ini bukan sebagai pesan milik individu melainkan pesan public. Pesan ini dimaknai menurut makna sosial (khalayak).
Pernyataan ini bergulir di masyarakat seperti bola salju, makin membesar dan tak terkendali. Hal ini tercermin dari pemberitaan media dan opini public baik yang berpandangan radikal, netral, maupun yang mendukung rasialisme. Statement ini menuai protes dari kalangan Bugis-Makassar yang akhirnya membangkitkan nilai negative bahwa SBY-Boediono melanggar etika politik dimana setiap warga mempunyai kedudukan yang sama dalam dimensi cultural untuk menjadi seorang pemimpin.
Dampak dari statement ini akhirnya menjadi hukuman public yang berlangsung di masyarakat baik secara personal dan kelompok. Masyarakat terpengaruh pemberitaan media yang akhirnya tidak bersimpati lagi kepada pasangan ini karena menyinggung SARA yang notabene Indonesia sangat kaya akan kultur.

Kepemimpinan Sulsel

Media massa sangat powerfull untuk membentuk opini public dan realitas sosial. Denis Mc Quail (1987) mengatakan kekuatan media adalah mempengaruhi, memberikan status, dan mendefinisikan realitas yang terjadi di masyarakat. Jika ini dikaitkan dengan terpilihnya gubernur-wakil gubernur Sulsel Syahrul-Anwar, wajar jika rakyat menagih janji mereka yaitu program pendidikan dan kesehatan gratis.
Seiring dengan berjalanya waktu, gubernur sudah masuk minggu ketiga di roda pemerintahanya namun janji pasangan ini belum juga terealisasi. Menurut Prof Dr. Halide yang menganggap program tersebut sulit untuk dilaksanakan karena terbentur infrastruktur dan pendanaan. Sedangkan untuk kesehatan gratis, sebenarnya tak ada yang berbeda dengan sistem yang sudah ada karena memang sudah tersedia Askeskin (Jamkesmas). Kedua fakta ini sudah menjadi berita yang menjelma menjadi gugatan public kepada gubernur baru.
Tanpa mengurangi obsesi program gubernur tentang pendidikan dan kesehatan gratis, namun kecenderungan analisis berita menunjukan bahwa gubernur dikonstruksi di public tak punya greget untuk merealisasikan janji itu. Sebagai ikon pemimpin muda, cerdas, dan sehat sepantasnya kehormatan politik berada dalam gemgaman.
Kepalsuan janji gubernur pasangan Syahrul-Anwar terbukti dengan tingginya tingkat ketidak lulusan ujian nasional (UN) tingkat SMP pada tahun 2008. Anjloknya tingkat kelulusan memberikan makna signifikasi bahwa proses pendidikan di tingkat SMP perlu ditingkatkan. Pembenahan secara sistematik harus dilakukan tidak hanya terarah pada pemerataan pendidikan tetapi juga memperhatikan pendidikan yang terjangkau dan bermutu.
Gambaran data kongkrit ketidaklulusan SMP yang cukup tinggi ini memberikan warning kepada para pemegang kebijakan. Permasalahan pendidikan tidak hanya pada pendidikan gratis tapi juga membebaskan siswa dari pungutan bayaran dan memperhatikan masalah-masalah laten pendidikan di Sulsel.
Setidaknya ada beberapa mata rantai yang harus dibenahi jika ingin memperbaiki mutu pendidikan. Diantaranya murid, guru, sarana prasarana, dan system. Namun kegagalan program meningkatkan mutu pendidikan dengan pendidikan gratis harus dilakukan pembedahan oleh para penentu kebijakan. Penentu kebijakan harus instropeksi dan mencarikan pemecahan atas semua permasalahan yang terjadi di dunia pendidikan. Yang penting pendidikan gratis juga harus diimbangi dengan mutu yang bagus pula.
Lebih dari itu semua para kandidat dan pemimpin pemerintahan harus bisa merealisasikan janji-janji yang terucap, jangan hanya bisanya mengobral janji saja. Jangan sampai karena dapat berkomunikasi baik dan mempengaruhi rakyat mereka lupa akan perubahan yang mereka janjikan.

Konflik antara Polisi dan Mahasiswa di Sulselbar

Konflik antara mahasiswa dengan polisi terjadi di Kampus Unhas Tamalanrea Makassar, Rabu 17 Desember 2008. Peristiwa ini sangat menyayat hati masyarakat luas, bagaiman tidak media massa baik cetak maupun elektronik menampilkan dengan jelas dan transparan seorang mahasiswa ditendang, dipukuli, dan diinjak-injak aparat kepolisian bagaikan pencuri ayam. Bingkai berita media yang disajikan untuk public menunjukan betapa tindakan aparat kepolisian telah diluar batas kemanusiaan.
Apalagi yang dianiaya adalah demonstran berstatus mahasiswa yang menyalurkan aspirari protes tentang Undang-Undang BHP. Dimata mahasiswa undang-undang ini tidak memihak rakyat kecil untuk mendapatkan pendidikan yang terjangkau di perguruan tinggi.
Pada masa demokrasi ini tentu banyak akan menuai aksi unjuk rasa, protes dan demonstrasi dari kalangan masyarakat dan mahasiswa jika ada kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat banyak. Seharusnya polisi harus cerdas dalam mengawal dan mengamankan jalanya demonstrasi tanpa adanya kekerasaan bahkan penganiayaan.
Konflik ini memperlihatkan betapa pihak aparat kepolsian dibawah kepemimpinan Kapolda Sulselbar Irjen Sisno Adiwinoto, berlaku represif dan tak kenal ampun bagaikan memburu bandit ke dalam kampus. Yang lebih menggetirkan, kejadian tersebut terjadi di dalam kampus yang notabene menjunjung tinggi niai-nilai peradaban dan kemanusiaan dimana perbedaan pendapat sangat dihargai sebagai area “kebebasan mimbar”.
Penanganan konflik dalam bentuk demonstrasi dapat diselesaikan dengan dialog dan diplomasi untuk mempertemukan perbedaan kepentingan. Pihak kepolisian harus lebih cerdas menangkap gejala dengan menempatkan aparat kepolisian yang mempunyai kepiawaian dalam bernegosiasi dan diplomasi baik kepada elite mahasiswa maupun elite kampus. Sehingga aparat kepolisian tidak terjebak dan lari dari fungsi pelayanan masyarakat.
Adanya perilaku represif dan kekerasan yang dipertontonkan, Kapolda harus dengan jiwa gentleman harus mau bertanggung jawab atas peristiwa ini. Dalam hal ini bawahan tidak bertanggung jawab karena bawahan bekerja atas perintah atasan dan sesuai dengan keinginan atasan. Pertanggung jawabanya dapat berupa dengan sadar dan rela meninggalkan kursi kekuasaan.
Dalam hal ini yang dirugikan adalah pihak kepolisian karena dengan adanya pemberitaan peristiwa ini dimedia akan menurunkan pamor polisi dimata rakyat. Rakyat akan miskin kepercayaan pada aparat kepolisian.

Etika Komunikasi

Pemimpin yang cerdas tentu dalam menjalankan komunikasi sosial akan cenderung menggunakan strategi komunikasi empatik agar pesan yang disampaikan dapat dipahami dan dimengerti penerimanya. Kecerdasan berkomunikasi yang dilakukan pemimpin akan menjadi indikator dalam menjalankan leadership suatu organisasi maupun birokrasi pemerintahan.
Seorang pemimpin harus cerdas mengorganisir setiap komponen-komponen komunikasi yang ada di lembaganya termasuk aparat yang berhubungan dengan pelayanan public yang dinampakan dalam bentuk etika berkomunikasi. Banyak aparat pemerintahan yang tidak mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik, hal ini akan berdampak buruk pada sosialisasi kebijakan-kebijakan yang baru diputuskan. Termasuk penerapan peraturan yang tak bisa dipatuhi rakyat karena aparat kurang trampil dalam membahasakan peraturan.
Misalnya statement Walikota Makassar (Fajar, 12 Januari 2008) yang menyampaikan bahwa pemerintah kota Makassar mempunyai komitmen untuk menghapus atau meniadakan yang namanya pungutan liar dalam melayani masyarakat ditempat pelayanan public. Komitmen semacam ini perlu disikapi secara antisipatif agar komitmen ini tidak menjadi pidato yang hanya mengandalkan kecerdasan komunikasi saja. Komitmen ini harus mempunyai resonansi terhadap suatu budaya yang berlangsung di masyarakat. Jika komitmen walikota ini tidak dilengakpi dengan penjelasan yang utuh kepada para aparat pelaksana dilapangan maka komitmen ini hanya akan menjadi pepesan kosong saja.
Sebagai seorang pemimpin yang baik, tak hanya harus berkemampuan komunikasi yang baik tapi juga harus mempersiapkan konsep yang baik pada saat bersamaan. Maka dari itu pemimpin tak hanya bisa mencipakan kebijakan dan konsep namun juga harus menguraikan sedetail mungkin penjabaranya.
Yang dibutuhkan saat ini adalah pemimpin yang tak hanya pandai membuat narasi didepan public, tapi harus berkomitmen yang nyata bahwa pelayanan public adalah pelayanan beretika dimana sepak terjang pelayanan diberikan aparatur pemerintah baik secara bahasa verbal maupun non verbal.

Media dan Korupsi

Menyikapi peran media massa dalam pemberantasan korupsi, Wakil Ketua KPK, Haryono Umar menyatakan bahwa tingkat konsistensi yang diberikan media massa dalam pemberantasan korupsi cukup signifikan dalam mengungkap kasus-kasus pencurian uang rakyat. Peran media massa yang cukup strategis perlu terus ditingkatkan dalam upaya mencegah dan memberantas korupsi yang ada didepan mata media, ini diungkapkan Haryono dalam Lokakarya Anti Korupsi di Makassar (28 Juli 2009).
Bahkan data dari lembaga survey UGM (2006) menunjukan keseriusan peran media massa dalam pemberantasan korupsi merupakan salah satu instrument sosial terdepan. Keseriusan media massa untuk memberitakan tentang korupsi karena fungsi pengawas terhadap symptom sosial yang telah memuakan kita semua. Apalagi para pelaku korupsi adalah orang-orang terpandang dalam pemerintahan seperti Burhanudin Abdullah, Aulia Pohan, Al-Amin Nasution, Hamka Yandhu, Nurdin Halid, Artalita Suryani, dll.
Oleh sebab itu tanggung jawab media terhadap korupsi harus terus diberitakan dan dilacak karena (1) korupsi di negeri kita suadah membudaya dan menjadi penyakit kronis yang sulit disembuhkan, (2) korupsi dilakukan berjamaah dan berkolaborasi dengan para penegak hokum, (3) koruptor tak merasa berdosa telah merampas uang rakyat, (4) koruptor tak merasa malu untuk tampil di depan public, (5) korupsi tak hanya dilakukan oleh orang-orang intelektual tapi juga oleh orang religius.
Media akan dengan gencar memburu berita dan menyajikanya pada masyarakat luas. Dengan kekuatan media akan menimbulkan efek jera, hukuman sosial dan psikologis dalam bentuk pembunuhan karakter. Pembunuhan karakter sangat efektif untuk mempermalukan seorang koruptor. Artinya media massa yang biasanya sebagai penerjemah terhadap sebuah peristiwa beralih fungsi sebagai hakim sosial.

Pendapat Penulis

Menurut saya buku ini sangat baik untuk dibaca karena membuat kita paham dan mengerti apa yang sebenarnya terjadi dalam dunia politik di negeri kita ini. Buku ini banyak memberikan penjelasan dengan menggunakan contoh-contoh kasus real yang tidak asing ditelinga kita, dengan mengupas setiap kasus membuat pembaca semakin paham dengan realita yang ada. Dengan kasus-kasus yang ditampilkan kita tidak hanya dapat belajar bagaimana penerapan sosiologi komunikasi berlangsung tapi pembaca juga dapat mempelajari komunikasi politik dari setiap kasus yang ada. Hal ini tergantung dari sudut pandang mana pembaca melihatnya.
Jika dibandingkan dengan buku berjudul Sosiologi Komunikasi karya Burhan Bungin, buku ini lebih menceritakan realita di sekitar kita. Sedangkan buku karya Bungin lebih banyak memaparkan sosiologi komunikasi dari sisi teori-teori yang ada.
Penulis memohon maaf jika bacaan ini jauh dari kesempurnaan. Penulis juga menunggu kritik dan saranya agar kelak penulis dapat menulis lebih baik lagi. Penulis harap bacaan dapat menambah wawasan dan pengetahuan pembaca.

Referensi Buku Komunikasi Politik Media Massa dan Kampanye Pemilihan
Karya Pawito, Ph. D.

Disusun oleh:

Novi Wastiningsih ( 07351600.58 )
Tugas Komunikasi Politik
FISIP ANGK X

Universitas 17 Agustus Jakarta

Judul Buku: Komunikasi Politik, Media Massa dan Kampanye Pemilihan
Penulis: Pawito, Ph. D.
Penerbit: Jalasutra
Cetakan: Cetakan I, Maret 2009
Tebal: xii + 328 halaman

Buku ini berisi mulai dari pengertian komunikasi politik, media massa dan politik, kampanye pemilihan, dan pemasaran politik. Menurut saya buku ini menitikberatkan komunikasi politik dalam kaitanya media massa, jadi sebuah komunikasi dapat di katakan komunikasi politik tergantung pada karakter pesan dan dampaknya terhadap system politik. Semakin jelas komunikasi berkaitan dengan politik dan semakin kuat dampaknya terhadap system politik, maka semakin signifikan pula komunikasi tersebut di nilai sebagai komunikasi politik.
Di dalam buku ini dipaparkan pengertian komunikasi politik dari beberapa tokoh. McQuail (1992:472-473) mengatakan bahwa komunikasi politik adalah “all process of information (including facts, opinions, beliefs, etc.), transmition, exchange and search enganged in by participants in the course of institutionalized political activities” yang kurang lebih artinya semua proses penyampaian informasi (seperti fakta, pendapat, keyakinan dan seterusnya) dimana pertukaran dan pencarian tentang itu semua yang dilakukan oleh para partisipan dalam konteks kegiatan politik yang lebih melembaga. Sedangkan Meadow (1980:4) menyatakan komunikasi politik adalah “any axchange of symbols or messages that to significant extent have been shaped by, or have concequences for the functioning of political system” ( segala bentuk pertukaran symbol atau pesan yang sampai pada tingkat tertentu di pengaruhi atau mempengaruhi berfungsinya system politik ).
Sama dengan komunikasi pada umumnya, komunikasi politik juga memiliki lima unsur, yaitu :
Pelibat ( aktor atau partisipan )
Aktor dalam komunikasi politik merupakan orang yang mempunyai peran dalam proses penyampaian dan penerimaan pesan. Aktor ini dapat berupa individu, kelompok, organisasi, lembaga, ataupun pemerintah.
Pesan
Pesan dalam komunikasi politik selalu mempunyai kaitan dengan politik. Maksudnya pesan ini berisi tentang semua kepentingan penjatahan sumber daya politik. Apabila penjatahan ini di terima oleh rakyat maka peluang munculnya konflik semakin kecil, namun jika penjatahan sumber daya publik tidak dapat diterima hal ini dapat memicu terjadinya konflik.
Saluran
Media massa merupakan saluran komunikasi politik yang mempunyai peran besar. Media massa selalu ada pada peristiwa yang penting, mengamati, merekam, mencatat, dan setelah itu menyebarluaskan pada publik dengan sudut pandang masing-masing dari media massa.
Konteks
Komunikasi politik berlangsung dalam konteks system politik tertentu dengan segala aturan dan norma yang berlaku dalam sebuah masyarakat yang mungkin berbeda pada setiap masyarakat atau pada setiap bangsa.
Pengaruh ( effect )
Setiap pesan yang di sampaikan tentu akan mendapatkan respon dari pihak yang terkait dan berkepentingan ( komunikan ). Dari respon inilah terlihat efek yang di timbulkan, dan tentu saja setiap komunikator mengharapkan efek berupa perubahan situasi seperti yang dikehendakinya. Namun tentu efek tidak selalu seperti yang di harapkan, terkadang tidak terjadi efek apapun bahkan mungkin dapat berupa perubahan situasi yang lebih buruk.

Dalam konteks politik modern, media massa tidak hanya menjadi bagian yang integral dari politik , tetapi juga memiliki posisi yang sentral dalam politik. Setiap kebijakan harus disebarluaskan agar rakyat mengetahui dan ikut berdiskusi dalam forum diskusi politik. Setiap kebijakan yang di ambil tentu akan menuai pro dan kontra, dan disinilah media massa memiliki peran yang penting dalam menyalurakan semua aspirasi masyarakat. Media massa dapat menjangkau publik yang jauh, beragam , dan terpencar sehingga dapat menampung semua pesan dengan efektif dan efisien.
Media massa menyediakan informasi politik yang di butuhkan publik dan tentu saja informasi yang di sampaikan akan sesuai dengan sudut pandang media massa itu sendiri. Informasi ini akan mempengaruhi persepsi, pendapat, sikap, bahkan perilaku publik.

Sebelum kita membahas kaitan antara kampanye dan media massa, buku ini juga memaparkan fungsi, kekuatan, pengaruh, dan pendapat umum.

Fungsi Media Massa

Lasswell (1995:93-94) membagi fungsi media massa menjadi tiga yaitu, (a) the surveillance of the environment (pengawasan terhadap keadaan lingkungan), (b) the correlation of the parts of society in responding to the environment (menghubungkan bagian-bagian masyarakat dalam merespon lingkungan), dan (c) the transmission of the social heritage from one generation to the next (mentransmisikan warisan sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya).
Fungsi pengawasan ditunjukan pada aktivitas media massa dalam mencermati dan melaporkan peristiwa penting kepada masyarakat. Lebih dari itu media massa juga menjadi anjing penjaga (watchdog function) karena media massa mengungkap ketidakberesan dalam penyelenggaraan pemerintah maupun dalam kehidupan masyarakat.
Fungsi penghubung ditunjukan media massa dengan menyediakan forum untuk diskusi, saling bertukar pendapat dan aspirasi demi tercipatanya pemahaman bersama (mutual understanding), kesepakatan bersama (mutual agreement), dan tindakan bersama (mutual action) sehingga akan terwujud kehidupan yang harmonis.
Sedangkan fungsi transmisi warisan sosial adalah peran media massa dalam proses sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat luas. Isi dari sosialisasi ini adalah nilai, norma, dan kesepakatan yang berkembang di masyarakat demi keutuhan dan terpeliharanya aturan sosial.
Charles R. Wright (1975:8-22) menambahkan satu fungsi selain fungsi yang sudah di jelaskan diatas yaitu fungsi menghibur. Yang dimaksud dengan fungsi menghibur disini adalah penyajian pesan yang akan disampaikan pada khalayak melalui cara-cara yang nantinya akan menimbulkan suasana santai. Contohnya saat ini banyak film dan acara musik di televisi yang memiliki muatan politis, propaganda, dan sosialisasi politik. Sebut saja film Flags of Our Fathers (Warner Bros Picture and Dreamworks Picture,2004) yang berisi nilai-nilai semangat perjuangan dan pengabdian kepada negara oleh para tentara AS di era PD II, khususnya di medan pertempuran Lwo Jima yaitu sebuah pulau kecil yang menjadi sasaran penyerbuan 70.000 pasukan marinir AS. Dan masih banyak lagi film-film lain yang bertujuan politik.
Selain kedua tokoh di atas, masih banyak tokoh-tokoh lain yang memaparkan pandapatnya tentang fungsi media massa. Namun yang terbaru adalah pendapat Curran (1996:103-4) yang menyebutkan tiga fungsi dari media massa yaitu fungsi informasi, fungsi representasi, dan fungsi membantu tercapainya tujuan bersama masyarakat.
Fungsi informasi, media massa tidak hanya melaporkan peristiwa-peristiwa yang terjadi tapi juga berusaha menumbuhkan kemajemukan pemahaman atas sebuah peristiwa. Semakin banyak media massa yang melaporkan peristiwa itu maka akan semakin bervariasi pula persepsi yang berkembang karena masing-masing media massa menyajikan berita sesuai dengan frame’nya. Hal ini akan menimbulkan sikap kritis masyarakat terhadap isu yang sedang beredar di masyarakat.
Fungsi representasi berkenaan dengan tuntutan agar media massa dapat membantu menciptakan alternative perspektif yang dapat dipilih oleh masyarakat. Ini jadi penting karena demokrasi menjunjung tinggi kesederajatan dan kemajemukan. Pemerintahan yang di pimpin oleh mayoritas harus dapat menjamin hak-hak minoritas, jangan sampai mayoritas menindas kalangan minoritas. Disinilah media massa dituntut untuk mengimbangi pemberitaan agar tidak memihak salah satu kalangan sehubungan dengan kemajemukan ataupun konflik yang ada.
Media massa membantu mewujudkan tujuan bersama masyarakat ditunjukan dengan media massa tidak hanya melaporkan ketidakberesan yang terjadi di pemerintahan ataupun di masyarakat. Namun lebih dari itu, media massa di tuntut untuk dapat membantu mewujudkan “the common objective of society through agreement or compromise between opposed groups” (tujuan bersama masyarakat melalui kesepakatan atau kompromi diantara kelompok-kelompok yang saling berlawanan). Maksudnya media massa harus membantu mempromosikan dan memfasilitasi prosedur demoktratik dalam upaya mensosialisasikan tujuan bersama, menampung setiap aspirasi dan gagasan terutama ketika perbedaan mulai menajam dan tanda-tanda konflik akan terjadi.
Dalam konteks pemilu, media massa harus menginformasikan dengan jujur, akurat, dan fair mengenai calon-calon yang ada, meyakinkan publik bahwa pemilu merupakan moment yang penting untuk menentukan arah dan masa depan bangsa, dan menonjolkan gagasan yang berupa solusi ketika ada gelagat konflik. Gagasan ini dapat diperoleh dengan wawancara pihak terkait sehingga masyarakat dapat memberikan penilain sendiri tentang isu yang sedang berkembang.

Kekuatan Media Massa

Kekuatan media massa di tengah masyarakat meliputi (a) mengkonstruksi dan mendekonstruksi realitas hingga tercipta citra dan persepsi tertentu di masyarakat, (b) mengagregasikan dan mengartikulasikan kepentingan atau tuntutan, (c) memproduksi dan mereproduksi identitas budaya.
Mengkonstruksikan dan Mendekonstruksikan Realitas
Ini di tunjukan dalam hal pemberitaan. Dalam pemberitaan media massa biasanya memberikan prioritas liputan mengenai peristiwa ataupun isu tertentu dan mengabaikan yang lain (agenda setting). Disamping ini media massa juga memberikan penekanan pada substansi persoalan tertentu berkenaan dengan peristiwa atau isu tertentu dan mengabaikan substansi persoalan lain (framing).

Mengagregasikan dan Mengartikulasikan Kepentingan
Dapat diamati dalam surat pembaca, liputan berita yang ekstensif dari hasil wawancara dengan elit politik, pemberitaan tentang penyampaian aspirasi termasuk aksi protes dan demonstrasi, pemuatan karikatur dan kartun, polling pendapat umum, serta acara talkshow.
Memproduksi dan Mereproduksi Identitas Budaya
Kekuatan media massa dalam memproduksi dan mereproduksi identitas budaya dengan cara menyampaikan dan menyebarluaskan nilai-nilai budaya seperti busana, arsitektur, patung, lukisan, gaya hidup, masakan, kesenian, acara keagamaan, adat istiadat, yang semuanya memiliki signifikasi dengan identitas budaya.

Pengaruh Media Massa

Pada dasarnya media massa berpengaruh dalam menguatkan pendapat atau sikap tapi tidak untuk merubahnya. Namun secara rinci pengaruh media massa adalah:
Pengendalian isu publik pada khalayak
Terlihat dalam penguatan demi penguatan dalam teori agenda setting yang pada dasarnya akan mempengaruhi agenda masyarakat.
Frame khalayak mengenai isu-isu publik
Saat ini sedang berkembang teori media framing yang mengatakan bahwa frame media mempengaruhi frame khalayak (persepsi khalayak tentang peristiwa dan isu tertentu).
Pembentukan pendapat khalayak mengenai isu-isu publik
Hal ini nampak dengan berkembangnya teori spiral of salience yang mengatakan bahwa individu-individu khalayak sampai tingkat tertentu merajuk pada pemberitaan media untuk membangun pendapat-pendapat mengenai peristiwa atau isu tertentu dan juga membandingkan pendapat mana yang banyak pendukungnya.

Pandangan, persepsi, dan penilaian terhadap realitas
Setiap individu akan cenderung memiliki pandangan yang sama dengan yang dilaporkan oleh media massa terhadap sebuah realitas.
Penumbuhan citra pada khalayak mengenai objek
Dengan adanya pemberitaan tentang sebuah objek (tokoh, partai politik, pemerintah, organisasi, perusahaan), baik yang positif ataupun yang negatif akan membentuk citra di mata masyarakat sesuai dengan pemberitaan.

Pendapat Umum

Media massa memfasilitasi terbetuknya pendapat umum dengan beragam cara termasuk mengamplifikasi pendapat-pendapat dalam bentuk pemberitaan, penyajian tajuk, karikatur, talk show, publikasi hasil polling pendapat umum, dan pemberitaan hasil perhitungan cepat (quick count) ketika berlangsungnya pemilihan umum. Quick count merupakan cara penghitungan pemilihan suara dengan menggunakan metode survey yang melibatkan tehnik pengambilan sampel tertentu. Ini biasanya di lakukan oleh lembaga-lembaga terkait dengan penyelenggaraan pemilihan. Walaupun perhitungan cepat merupakan hasil perhitungan dari sampel, namun terkadang dapat terkesan bersifat krusial.
Sifat krusial ini terletak pada dampak psikologis dari pengumuman hasil perhitungan cepat yang seringkali di lakukan sebelum pemungutan suara selesai. Terkadang kita lupa kalau ini bukanlah hasil resmi dari KPU namun kita sudah terlanjur mempercayai hasil dari perhitungan cepat.
Selain melalui cara-cara di atas, pedapat umum juga dapat disalurkan melalui rubrik surat pembaca di surat kabar dan majalah. Pemberitaan yang berisi wawancara antara wartawan dan tokoh pelaku juga merupakan saluran pendapat umum.
Terbentuknya pendapat umum senantiasa melibatkan proses yang kompleks. Gagasan sering kali muncul secara individual, misalnya seorang anggota perlemen yang membuat pernyataan mengenai kebijakan tertentu yang baginya itu tidak adil. Perbincangan tentang ini di mulai dari komunikasi antar pribadi, namun ketika kebijakan ini sudah bersifat krusial maka media massa akan tertarik untuk mewancarai tokoh yang bersangkutan dan kemudain memberitakanya.
Pada tahap berikutnya, pernyataan ini akan menjadi pemberitaan yang sudah ramai dibicarakan. Akan muncul pendapat yang sejalan dan yang berbeda mengenai persoalan yang sama. Ini akan semakin ramai diberitakan oleh media massa dengan sumber-sumber berkompeten yang berasal dari kalangan berbeda untuk saling berdiskusi dan menyatakan pendapatnya.
Akhirnya kebijakan publik ini akan menjadi isu pilitik. Pada tahap ini, pendapat individu bersangkutan telah menjadi pendapat umum terutama setelah terjadi perdebatan dan negosiasi di dalam masyarakat yang kemudian mengerucut menjadi tuntutan dan saran. Disini media massa berperan ganda, sebagai institusi yang memfasilitasi debat publik sekaligus sebagai agen yang mempengaruhi terbentuknya pendapat umum.
Salah satu teori yang berhubungan dengan terbentuknya pendapat umum adalah teori the spiral of silence yang dikembangkan oleh Elizabeth Noelle-Neumann di pertengahan dekade 1970-an dimana teori ini melibatkan empat unsur yaitu: media massa, komunikasi antar pribadi dan jalinan hubungan sosial, pernyataan individu mengenai peristiwa tertentu, serta persepsi yang dimiliki individu mengenai kecenderungan situasi pendapat mengenai lingkungan sosial terkait dengan peristiwa tertentu.
Dipandang dari teori ini, maka individu di masyarakat biasanya menyimak dan mencermati semua pendapat yang ada mulai dari pendapat yang dominan sampai pendapat yang hanya diikuti sedikit warga. Individu yang mendapat kesan pendapatnya sama dengan pemikiran kebanyakan orang tentu akan mudah terbuka dalam menyatakan pendapat, namun individu ini akan diam jika pendapatnya berbeda dan berlawanan dengan pendapat kebanyakan orang. Dari sini terlihat bahwa munculnya pendapat umum lebih merupakan proses tarik menarik dan hasil jalinan komunikasi antar pribadi dengan komunikasi massa.

Media Massa dan Kampanye Pemilihan

Seiring dengan berjalanya waktu, kampanye pemilihan banyak mengalami perubahan. Menurut Denver (1992:414) perubahan ini dipengaruhi: (a) semakin bertambahnya pemilih, (b) semakin banyaknya media massa, (c) adanya perubahan perundang-undangan yang mengatur tentang pemilihan dan kampanye, (d) perkembangan televisi, (e) adanya polling pendapat umum, (f) perkembangan teknologi computer dan internet, (g) mahalnya biaya kampaye.
Indonesia juga mengalami beberapa perubahan kampanye. Pada periode pemilihan umum tahun 1955, kampanye dilakukan dengan cara rapat umum dan pidato politik. Kandidat melakukan perjalanan ke daerah-daerah dengan menggunakan kereta api dan bertemu langsung dengan calon pemilih. Sedangkan calon pemilih harus bejalan kaki menempuh jarak yang jauh untuk melihat dan mendengarkan kandidat berpidato. Hal ini memungkinkan terjadinya komunikasi langsung antara pemilih dan kandidat. Disisi lain kandidat dapat dengan langsung melihat kondisi sosio-ekonomi dan juga dapat langsung mendengarkan aspirasi rakyat. Selain dengan kunjungan langsung ke daerah, kampanye juga dilakukan dengan cara pemasangan gambar partai menggunakan anyaman bambu dengan tinta hitam putih.
Media massa pers juga digunakan pada masa ini untuk berkampanye. Setiap partai politik memiliki surat kabar sendiri-sendiri. Pers pada masa ini merupakan pers partisipan yaitu pers yang dimiliki dan digunakan untuk kepentingan partai politik. Misalnya partai Masyumi memiliki koran Abadi, Partai Sosialis Indonesia (PSI) memiliki koran Pedoman, dan lain-lain.
Pada periode pemilihan 1977, para partai politik berkampanye dengan menggunakan arak-arakan sepeda motor dan mobil. Pada periode ini TVRI, RRI, radio, dan stasiun televisi swasta mulai memberitakan kejadian yang berhubungan dengan kampanye dan pemilihan dalam format yang lebih menguntungkan partai yang berkuasa yaitu Golkar. Hal ini karena siaran televisi swasta harus merelay siaran berita TVRI sedangkan siaran radio harus merelay dari RRI yang keduanya berada dibawah control pemerintah, dan seperti kita tahu pada masa ini pemerintahan dikuasai oleh Golkar. Para elite partai menyampaikan pidato politik sekedar untuk menginformasikan atau menawarkan rencana-rencana kebijakan dan nyaris tidak pernah mengkritik apalagi menyerang partai lain ataupun pemerintah.
Rapat umum yang disertai penyampaian pidato politik oleh para kandidat menjadi pilihan utama dalam berkampanye. Rapat umum biasanya dilakukan di lapangan kota, disini biasanya para elite politik akan menyampaikan janji-janji dimana yang pada akhirnya sebagian besar janji itu tidak pernah ditepati. Setelah rapat umum biasanya masa melakukan konvoi keliling kota menggunakan berbagai kendaraan yang akan menimbulkan kemacetan, kebisingan, dan kecelakaan lalu lintas.
Pada periode pemilihan umum 1999 keadaan berbeda lagi. Internet sudah banyak digunakan untuk berkampanye, dan semua partai besar mempunyai situs masing-masing. Sesuai dengan peraturan pada periode ini media massa pertama kali diperbolehkan menjual ruang dan waktu untuk kepentingan kampanye. Selain itu media massa juga menyelenggarakan acara talkshow dengan menghadirkan pembicara yang kritis dan menyelenggarakan polling pendapat umum. Pemerintah tidak lagi mencampuri urusan pemberitaan media mengenai kampanye dan pemilihan umum.
Dampak media terhadap kampanye mulai dirasakan terutama pada elite politik dan sebagian pemilih. Mereka menyadari bahwa kampanye melalui media massa sangat efektif, jadi mereka juga harus menyediakan dana lebih untuk memasang iklan di berbagai media massa. Pemilih tidak lagi perlu pergi ke rapat umum untuk mendengarkan pidato, namun cukup mengakses internet yang menyediakan banyak informasi tentang pemilu dan partai politik.
Periode pemilu tahun 2004, menandai babak baru di Indonesia karena pada periode ini presiden dan wakil presiden dipilih langsung oleh rakyat dan tidak lagi dipilih oleh MPR. Tidak hanya partai politik yang harus berkampanye tapi calon presiden juga harus berkampanye. Dalam berkampanye tidak jauh berbeda dengan periode sebelumnya yaitu masih menggunakan media massa, internet, rapat umum, arak-arakan kendaraan, talkshow, dan polling pendapat umum. Hanya saja pada periode ini para kandidat lebih mengutamakan melalui talkshow dan polling pendapat umum karena di anggap paling efektif untuk berkampanye. Selain itu, media elektronik memiliki acara khusus untuk liputan kampanye dan pemilihan. Hal ini akan memberikan dampak terhadap strategi dan jalannya kampanye yang mirip dengan sajian liputan pada halaman khusus di media cetak.

Pengaruh Iklan Terhadap Pemilih

Pengaruh iklan terhadap pemilih sama dengan pengaruh media massa terhadap pemilih. Walaupun begitu, pengaruh iklan seringkali dinilai khusus terutama karena besarnya biaya yang harus di keluarkan oleh partai politik untuk iklan. Pada umumnya iklan berpengaruh dalam hal kognitif (pengaruh iklan terhadap pengetahuan mengenai partai politik dan kandidat), afektif (pengaruh iklan terhadap penilaian pemilih terhadap partai politik dan kandidat), perilaku (pengaruh media massa terhadap preferensi atau mungkin keputusan pemilih).
Seperti yang kita ketahui, media massa memiliki pengaruh seperti yang pertama bullet theory, yang menyatakan bahwa media massa mempunyai pengaruh langsung dan kuat terhadap pemilih. Yang kedua, limited effect theory, artinya media massa sebatas memberikan pengaruh terhadap penumbuhan pengetahuan, penguatan sikap, keyakinan dan predisposisi khalayak sebelumnya.
Pawito (2000) mengemukakan pendapatnya tentang pengaruh media massa terhadap pemilih yaitu peningkatan pengetahuan pemilih mengenai politik terkait dengan pemilihan, dan agenda setting (prioritas isu yang menjadi perbincangan di dalam masyarakat).
Pawito juga mengatakan bahwa secara umum media massa kurang berpengaruh terhadap pembentukan sikap khalayak kepada partai dan kandidat serta terhadap keputusan memilih. Hal ini hanya akan sangat berpengaruh pada kahalayak pemilih golongan menengah perkotaan yang relative terpelajar dan tidak memiliki ikatan emosional dengan partai atau kandidat. Jenis pemilih ini adalah pemilih yang aktif mencari informasi tentang pemilihan melalui media massa dan mencermati penampilan para kandidat, program yang ditawarkan, dan posisi kandidat berkenaan dengan berbagai isu atau persoalan penting.
Di Indonesia, iklan kampanye diperkenalkan pertama kali pada tahun 1999. Periode ini menandai era baru kehidupan politik karena sebelumnya memang tidak diperbolehkan. Untuk mendapatkan dukungan yang besar partai politik dan para kandidat berlomba-lomba untuk membuat iklan walaupun harus merogoh kocek yang dalam. Iklan yang disuguhkan beragam dan dibuat semenarik mungkin.
Iklan kampanye tidak hanya dilakukan melalui televisi tetapi juga surat kabar. Melalui media apapun iklan ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai kandidat baik berupa citra, kepribadian, dan juga janji-janji. Iklan kampanye menonjolkan kelemahan dan keburukan pesaing, demi mengangkat citra kandidat pengiklan. Namun di Indonesia kampanye negative seperti ini masih dilarang, jadi kandidat hanya menonjolkan kelebihan partai pengiklan saja namun tidak menjelek-jelekan kandidat pesaing.
Misalnya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada pemilu 2004 menghadirkan artis Astri Ivo, seorang bintang televisi terkenal sebagai bintang iklan. Disini Astri Ivo ,mengatakan kerinduanya akan pemimpin yang bersih, jujur, adil, dan peduli. Tekhnik yang digunakan oleh partai adalah teknik kesaksian (testimonial), yaitu teknik dimana memunculakn tokoh yang terkenal sebagai bintang iklan untuk membujuk pemilih dengan mengemukakan alasan pendukung untuk memilih sebuah partai dan kandidat.
Sedangkan teknik chek stacking adalah teknik yang melakukan persuasi kepada publik sekaligus menumbuhkan citra positif tertentu dari permasalahan sementara sisi negatif diabaikan. Teknik ini dilakukan oleh Prabowo Subiyanto yang membuat iklan dengan menonjolkan keberhasilan kepemimpinan di massa orde baru.
Teknik lain yang digunakan adalah teknik glittering generalities yang dalam beriklan menggunkan kata-kata abstrak dan menyentuh emosi serta nilai-nilai kultural dan patriotik. Teknik ini pernah digunakan oleh Megawati dalam beriklan.
Selain iklan, hal yang penting dari media massa adalah berita. Media massa biasanya memberikan perhatian khusus terhadap peristiwa-peristiwa yang berkenaan dengan kampanye dan pemilihan. Banyak reporter mendapat tugas khusus untuk meliput, apalagi ketika hari pemungutan suara dan perhitungan suara. Banyak media massa cetak membuat halaman khusus untuk pemilu dan media elektronik menyajikan segmen khusus untuk menyampaikan laporan-laporan mengenai persiapan pemilu, pemungutan suara, dan perhitungan suara. Banyak media cetak mewancarai tokoh-tokoh terkait untuk mendapatkan berita yang akurat. Banyak stasiun televisi swasta yang menyuguhkan acara live berupa talkshow dan polling pendapat umum dengan mengundang para tokoh yang berkompeten.
Misalnya Trans TV menyiarkan debat calon presiden pada Senin malam 21 Juni 2004. Dalam acara ini tampil Susilo Bambang Yudhoyono – Jusuf Kalla, Amien Rais – Siswono Yudho Husodo, Hamzah Hazz – Agum Gumelar, Wiranto – Solahudin Wahid. Debat publik ini masih sering diwarnai keragu-raguan namun debat ini tetap memberikan kontribusi untuk membuka cakrawala pengetahuan dan penilaian calon pemilih kepada kandidat.
Jadi, media massa tidak hanya berfungsi menyampaikan laporan berbagai peristiwa tetapi juga menjadi panggung bagi partai politik dan kandidat yang saling berkompetisi meraih dukungan suara pemilih sebanyak-banyaknya. Bahkan media massa juga bertindak sebagai aktor yang terlibat langsung dalam pemilu, media massa ikut mengelu-elukan partai dan kandidat yang tampil.
Dimata pemilih, media massa jadi sangat dibutuhkan sebagai media yang memberikan informasi. Oleh karena itu laporan mengenai kampanye dan pemilu selalu ditunggu-tunggu.

Kampanye dan Pemasaran politik

Media massa bukanlah satu-satunya fasilitas pendukung suksesnya partai politik atau kandidat dalam kampanye. Yang paling mendukung adalah menejemen kampanye dan pemasaran politik. Menejemen kampanye biasanya di bangun dan diorganisasikan secara terstruktur, misalnya Tim Sukses atau Satuan Tugas Pemenangan. Tim sukses bekerja sejak sebelum periode pemilu, semasa periode, sampai akhir perhitungan suara. Baik atau buruknya sebuah menejemen politik akan menentukan keberhasilan kampanye, maka dari itu harus dipilih seorang pemimpin tim yang berkualitas, berkomitmen, dan optimistis akan keberhasilan yang akan di capai. Yang ada dalam tim juga haruslah orang-orang yang berwawasan luas dan tergolong senior dalam jajaran kepengurusan partai.
Sedangkan pemasaran politik menurut Newman ( dikutip oleh Newman dan Perloff, 2004:18) adalah “….the application of marketing principles and procedures in political campaigns by various individuals and organizations. The procedures involved include the analysis, development, execution, and management of strategic campaigns by candidates, political parties, governments, lobbyists, and interest group that seekto drive public opinion, advance their own ideologies, win elections, and pass legislation and referenda in response to the needs and wants of selected people and groups in a society.” (…penerapan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur pemasaran dalam kampanye politik oleh berbagai individu dan organisasi. Prosedur-prosedur termasuk meliputi analisis, pengembangan, pelaksanaan, dan menejemen strategi kampanye oleh para kandidat, partai politik, kalangan pemerintah, pelobi, dan kelompok-kelompok kepentingan yang berusaha untuk menciptakan pendapat umum, mengembangkan pengaruh ideoligi, memenangkan pemilihan, dan meloloskan rancangan peraturan perundangan dan memenangkan referendum yang kesemuanya ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan orang-orang atau kelompok tertentu didalam masyarakat.)
Agar mendapatkan hasil yang maksimal, tim juga harus menyiapkan rancangan strategi yang digunakan, anggaran biaya, dan perluasan jaringan hingga ke pelosok demi meraih tujuan yaitu kemenangan kekuasaan.
Sebenarnya kampanye dan pemasaran politik sama-sama perjuangan meraih kekuasaan melalui penyampaian informasi, penumbuhan citra, dan pengembangan persuasi untuk banyak hal, tetapi tidak semuanya menggunakan media massa.

Menurut saya buku ini menarik untuk di baca karena di dalam buku ini banyak memberikan kita pengetahuan tentang media massa, partai politik, kampanye, serta peran media massa dalam mensukseskan pemilu. Jika dalam buku ini lebih banyak berisi mengenai teori, berbeda dengan buku Pertarungan Elite Dalam Bingkai Media karya Dr. Hasrullah, MA yang membeberkan fungsi media massa diranah politik dengan memberikan contoh nyata yang terjadi disekitar kita.
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Politik. Penulis memohon krtitik dan saranya yang membangun agar penulis dapat menulis lebih baik lagi. Penulis harap tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Oleh: mphee89 | Juli 17, 2011

Proposal Komunikasi

Pengaruh Program Halo Polri dalam Meningkatkan Citra Polri

Nama : Novi Wastiningsih
NIM : 0735160058
Kapita Selekta Komunikasi
Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam melaksanakan tugas dan sebagai alat negara memberikan perlindungan,pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat, maka eksistensi Kepolisian Negara RI (Polri) selalu bersama dan menyatu dengan masyarakat. Dalam posisi demikian adalah wajar jika evaluasi kinerja Polri langsung di berikan oleh masyarakat. Evaluasi kinerja langsung oleh masyarakat terhadap Polri amat berpengaruh terhadap citra Polri.
Saat ini kualitas citra Polri dinilai para pengamat mengalami kemerosotan. Kemerosotan citra Polri di mata masyarakat merupakan sebuah persoalan penting yang hingga saat ini masih terus membelenggu Polri dalam menjalankan tugas dan wewenangnya sebagai penjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, melakukan penegakan hukum, dan melakukan pengayoman, perlindungan serta menciptakan keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas dalam melayani masyarakat. Fenomena ini tampaknya tetap akan menjadi siklus yang abadi dalam tubuh Polri, andaikata komitmen profesionalisme, transparansi dan akuntabilitas tidak diwujudnyatakan dalam sikap dan tindakan aparat kepolisian dalam menjalankan tugas dan wewenang sehari-hari.
Fenomena yang demikian itu sebagaimana pernah diungkapkan oleh Budayawan Jasa Suprana dalam sebuah Seminar Nasional Polisi di Semarang, bahwa “Nyaris tidak ada Surat Kabar yang tidak memuat artikel mengkritik polisi, mulai dari yang beralasan ilmiah sampai emosional pribadi. Tidak ada mulut yang tidak mengomeli polisi” (Jaya Suprana, “Polisi dan Pelayanan Masyarakat”, Makalah Seminar Nasional Polisi I diselenggarakan oleh Pusat Studi Kepolisian UNDIP, 1995, halaman 1).

B. Rumusan Masalah
Untuk membatasi sekaligus mengimbangi agar pembahasan tidak menyimpang dari segala hal yang telah ditetapkan, maka perlu dibuat suatu rumusan yang memuat tentang pokok permasalahan yang akan dibahas. Berdasarkan uraian diatas, penulis menentukan rumusan masalah sebagai berikut : “ Bagaimana pengaruh program Hallo Polisi dalam meningkatkan citra Polri ? “.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengumpulkan informasi dan data yang diperlukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh program Hallo Polisi terhadap peningkatan citra Polri.
D. Manfaat Penelitian
Dari data dan informasi yang dikumpulkan, diharapkan peneliatian ini bermanfaat bagi :
1. Organisasi (Polri), hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan saran khususnya bagian Public Relations dalam rangka meningkatkan citra
2. Pembaca dan dunia akademik, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber pengetahuan dan bahan masukan yang bermanfaat untuk melakukan penelitian selanjutnya.
3. Penulis, hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan wawasan tentang public relations, khususnya mengenai pengaruh program Hallo Polisi terhadap peningkatan citra Polri.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

A. 1. Public Relations
A. 1.1. Pengertian Public Relations
Beberapa macam karier dapat dideskripsikan secara jelas dengan beberapa kalimat yang beruntut. Namun berbeda dengan public relations, hal ini disebabkan karena public relations memiliki banyak aplikasi. Pada umumnya public relations mempermasalahkan pembentukan goodwill, mutual understanding, favourable public opinion.
Oleh karena untuk dapat memahami pengertian public relations lebih luas dan dalam, kita harus mengetahui beberapa pengertian public relations dari beberapa pakar. Menurut IPR (Institute of Public Relations),
“ Public relations adalah keseluruhan upaya yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan dalam rangka menciptakan dan memelihara niat baik dan saling pengertian antara suatu organisasi dengan segenap khalayaknya”

Sedangkan Cutlip menyatakan bahwa,
“Public relations is the management function which evalutes public attitudes, identifies the policies and procedures of an individual or an organization with the public interest, and plans and excutes a program of action to earn public understanding and acceptanance”

Artinya public relations adalah fungsi manajemen yang menilai sikap publik, mengidentifikasi kebijaksanaan dan tata cara seseorang atau organisasi demi kepentingan publik, serta merencanakan dan melakukan suatu program kegiatan untuk meraih pengertian dan dukungan publik” (Cutlip,Centre and Broom, 1994, p.3)
Pengertian lainnya menurut Frank Jefkins dalam bukunya “Public Relations” mengatakan bahwa,
“ Public relations adalah semua bentuk komunikasi yang terencana, baik itu kedalam maupun keluar, antara suatu organisasi dengan khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang spesifik yang berlandaskan pada saling pengertian”.

Dari beberapa pengertian diatas terlihat bahwa public relations merupakan suatu fungsi menejemen yang terencana dan berkesinambungan dalam mencapai tujuanya yaitu mencipatakan dan memelihara sikap saling pengertian. Hal ini dimulai dari penilaian sikap public, identifikasi kebijaksanaan dan juga perencanaan suatu kegiatan demi mendapatkan dukungan public. Semua itu dilakukan tidak hanya untuk kepentingan public eksternal namun juga untuk public internal.

A. 1. 2.Fungsi Public Relations
Hampir disetiap instansi pemerintah maupun perusahaan swasta mempunyai “Public Relations”. Makin luas aktifitas instansi tersebut makin luas pula aktivitas public relations. Public relations dapat membentuk citra atau image yang baik terhadap masyarakat luas.
Adanya citra yang baik terhadap perusahaan, akan mempercepat proses pencapaian tujuan yang dilandasi profesionalisme, kejujuran, tanggung jawab dan saling menghargai. Namun bila terjadi sebaliknya, dimana public relations tidak mampu menjalankan peran dan fungsinya maka tujuan perusahaan akan terganggu, bahkan tidak mustahil akan mengalami kegagalan. Namun yang harus diingat public relations bukan lagi “Pemadam Kebakaran” jika ada masalah ataupun “Pengharum” bagi aktivitas yang busuk. Public relations harus dipandang lebih luas yang dimulai dari perencanaan, program, evaluasi dan pengkajian.
Secara umum fungsi public relations adalah :
1. Membantu pimpinan mencapai tujuan perusahaan.
2. Selalu menjaga para manager agar “Well informed”, yaitu mendapat informasi yang cepat dan hangat tentang situasi terbaru, termasuk perubahan opini di masyarakat.
3. Selalu menjaga para manager dari reaksi yang kurang menyenangkan dari masyarakat terhadap aktivitas perusahaan dan mampu memberikan saran yang dapat mempersuasi masyarakat luas guna meredam reaksi yang kurang menyenangkan menjadi menyenangkan.
4. Mengkomunikasikan kebijakan dan aktifitas perusahaan melalui media massa yang ada.

A. 1. 3.Tujuan Public Relations
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam pekerjaan kehumasan tergolong dua golongan besar yaitu:
1. Komunikasi Internal (personil/anggota institusi)
• Memberikan informasi sebanyak dan sejelas mungkin mengenai institusi.
• Menciptakan kesadaran personil mengenai peran institusi dalam masyarakat.
• Menyediakan sarana untuk memperoleh umpan balik dari anggotanya.
2. Komunikasi Eksternal (masyarakat)
• Informasi yang benar dan wajar mengenai institusi.
• Kesadaran mengenai peran institusi dalam tata kehidupan umumnya dan pendidikan khususnya.
• Motivasi untuk menyampaikan umpan balik.
Maksud dan tujuan yang terpenting dari PR adalah mencapai saling pengertian sebagai obyektif utama. Pujian citra yang baik dan opini yang mendukung bukan kita yang menentukan tetapi feed back yang kita harapkan. Obyektif atau tujuan PR yaitu “Pengertian”. “The object of PR is not the achievement of a favourable image, a favourable climate of opinion, or favourable by the media”. PR is about achieving an UNDERSTANDING.
Tujuan utama penciptaan pengertian adalah mengubah hal negatif yang diproyeksikan masyarakat menjadi hal yang positif. Biasanya dari hal-hal yang negatif terpancar: hostility, prejudice, apathy, ignorance. Sedangkan melalui pengertian kita berusaha merubahnya menjadi: sympathy, acceptance, interest dan knowledge.

A.1. 4. Public Relations Officer (PRO)
Untuk mewujudkan semua fungsi dan mencapai tujuan diatas, bukan sebuah pekerjaan yang mudah dan juga bukanlah teramat sulit. Kunci suksesnya adalah memiliki organisasi yang mantap dan SDM yang tangguh, sehingga beban pekerjaan public relations dapat diformulasikan secara tegas dan jelas serta dijalankan oleh orang-orang yang memenuhi persyaratan kuantitas, kualitas dan memiliki kredibilitas.
Selain itu, diperlukan PRO yang memiliki sikap mental yang baik, luwes tetapi lugas, jeli, suka belajar, mempunyai pergaulan yang baik pada masyarakat internal dan eksternal, notabene dekat dengan pimpinan. Mengingat public relations adalah seni dan butuh penjiwaan, sehingga tidak ada jaminan seorang sarjana komunikasi dapat memainkan perannya. Untuk itu dituntut kejelian dalam merekrut tim public relations. Ini penting karena public relations adalah corong dan duta perusahaan, Kelas perusahaan akan tercermin dari performace public relations. Jika tidak serius maka public relations akan menjadi aksesoris semata, mandul dan mubazir.
Pekerjaan seorang public relations adalah tugas-tugas yang dilakukan dalam mempromosikan pengertian dan pengetahuan akan seluruh fakta-fakta tentang runtutan situasi atau sebuah situasi dengan sedemikian rupa sehingga mendapatkan simpati akan kejadian tersebut.
Pada umumnya kesan yang jelek datang dari ketidak-pedulian, prasangka buruk, sikap melawan, dan apatis. Seorang petugas humas harus mampu untuk mengubah hal-hal ini menjadi pengetahuan dan pengertian, penerimaan dan ketertarikan.
Bagian penting dari pekerjaan petugas Humas dalam suatu organisasi adalah :
a. Membuat Kesan
Kesan disini berarti “gambaran yang diperoleh seseorang tentang suatu fakta sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pengertian mereka (terhadap suatu produk, orang, atau situasi)”.
b. Pengetahuan dan Pengertian
PRO memiliki peran penting dalam membantu menginformasikan pada publik internal (dalam organisasi) dan publik eksternal (luar organisasi) dengan menyediakan informasi akurat dalam format yang mudah dimengerti sehingga ketidak-pedulian akan suatu organisasi, produk, atau tempat dapat diatasi melalui pengetahuan dan pengertian.
c. Menciptakan Ketertarikan
PRO memiliki peran penting dalam membantu menginformasikan pada publik internal (dalam organisasi) dan publik eksternal (luar organisasi) dengan menyediakan informasi akurat dalam format yang mudah dimengerti sehingga ketidak-pedulian akan suatu organisasi, produk, atau tempat dapat diatasi melalui pengetahuan dan pengertian.
d. Penerimaan
Masyarakat mungkin bersikap melawan pada sebuah situasi karena mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi, atau mengapa hal tersebut terjadi. Seorang PRO mempunyai peran kunci untuk menjelaskan sebuah situasi atau kejadian dengan sejelas-jelasnya sehingga ketidak-pedulian, dan bahkan sikap menentang, yang menjadi atmosfer disekelilingnya dapat diputar menjadi pengertian dan penerimaan.
e. Simpati
Dengan mengemukakan informasi secara jelas dan tidak bias, umumnya merupakan cara yang berhasil untuk meraih simpati.

A.2. Komunikasi Massa
A.2.1. Pengertian Komunikasi Massa
Mengenai pengertian komunikasi massa ada beberapa pendapat. Bittner (1980), komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang. Sedangkan Gerbner (1967), komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas memliki orang dalam masyarakat industry.
Dari pengertian diatas maka penulis mengartikan komunikasi massa merupakan komunikasi yang menggunakan media massa, baik media cetak ataupun media elektronik.

A.2.2. Fungsi-Fungsi Komunikasi Massa
Ada banyak fungsi komunikasi massa itu dilihat dari latar belakang dan tujuan yang berbeda. Ada komunikasi yang tujuanya untuk pendidikan dan ada juga yang tujuanya untuk mempengaruhi khalayak masyarakat.
Menurut Jay Black dan Federick C. Whitney (1980) fungsi komunikasi massa adalah:
1. Menginformasikan
Informasi merupakan sesuatu yang sangat penting dalam komunikasi massa. Komponen yang paling penting untuk mengetahui informasi itu sendiri adalah berita0berita yang disajikan. Dalam sebuah informasi terkandung fakta-fakta disajikan menarik agar mudah dipahami dan diterima oleh penerima.
2. Memberikan Hiburan
Hiburan merupakan salah satu yang dibutuhkan. Dalam komunikasi massa ada fingsi sebagai hiburan karena khalayak dari sasaran komunikasi massa juga membutuhkan hiburan untuk mengistirahatkan dirimya dari aktifitas.
3. Membujuk
Persuari dapat muncul dalam beberapa bentuk yaitu; mengukuhkan dan mengubah kepercayaan, menggerakan khalayak, serta memperkenalkan nilai tertentu.
4. Transmisi Budaya
Transmisi budaya hadir dalam bentuk komunikasi yang berakibat pada penerimaan individu. Dalam prosesnya bentuk komunikasi dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman individu. Transmisi budaya ada yang kontemporer dan historis. Pada tingkatan kontemporer, komunikasi massa memberikan perubahan nilai masyarakat dengan memberikan bibit perubahan secara terus menerus. Sementara pada tingkatan histori masyarakat sudah mendapat pengalaman dan dapat menyortir mana yang dibutuhkan mana yang tidak dibutuhkan.
Lain halnya dengan Harold D. Lasswel yang menyebutkan fungsi komunikais massa sebagai fungsi pengawasan, fungsi korelasi, dan fungsi pewarisan sosial.

B. Kerangka Pemikiran

B. 1.Komunikasi Media
Kita semua merasakan bahwa komunikasi kegiatan yang tidak mungkin terpisahkan dari kehidupan manusia. Komunikasi benar-benar dibutuhkan dalam kehidupan karena digunakan sebagai pelontar dan penangkap ide, membentuk pendapat, menentukan sikap, dan memutuskan tindakan.
Dalam kehidupan sehari-hari komunikasi ada yang berlangsung tanpa menggunakan alat bantu ada juga yang berlangsung menggunakan alat bantu. Alat bantu tersebut dinamakan media komunikasi atau sarana komunikasi. Yaitu berupa alat atau seperangkat alat yang dapat digunakan untuk menunjang kelancaran proses komunikasi.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa media komunikasi berfungsi sebagai alat perantara yang memperlancar proses komunikasi. Media komunikasi disebut alat yang memperlancar proses komunikasi karena berfungsi sebagai alat untuk:
a Mempermudah penyampaian pesan atau informasi
b Membangkitkan motivasi komunikan
c Mengefektifkan proses penyampaian pesan
d Mempersinkat waktu proses penyampaian pesan
e Menghubungkan komunikan dan komunikator yang berjauhan
f Menambah daya tarik pesan yang ingin disampaikan
g Memperjelas isi pesan yang ingin disampaikan.

B. 2. Citra
B. 2.1. Pengertian Citra
Setiap perusahaan tentu memiliki citra yang disadari atau tidak telah melekat pada perusahan tersebut. Tidak sedikit barang atau jasa yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan memliki citra yang begitu melekat pada benak konsumen.
Killer menjelaskan bahwa,
“corporate image is the consumers response the total offering and is defined as a sum the belief, ideas, and impressions that a public has an organization”.
Artinya citra perusahaan adalah respon konsumen pada keseluruhan penawaran yang diberikan perusahaan dan didefinisikan sebagai sejumlah kepercayaan, ide, dan kesan masyarakat pada sebuah organisasi.
Sedangkan Nguyen dan Leblanc mengungkapakan citra perusahaan sebagai “ corporate image is described as overall impression made on the minds of the public obout organization. It is related to business nsme, architecture, varietyof product/services, tradition, ideology, an to the impression of quality communicatedby each employee interactingwith the organizations clients”
Dapat diartikan citra perusahaan merupakan keseluruhan kesan yang terbentuk di masyarakat tentang perusahaan. Dimana citra tersebut berhubungan dengan nama bisnis, arsitektur, variasi dari produk, tradisi, ideologi, dan kesan pada kualitas komunikasi yang dilakukan oleh setiap karyawan yang berinteraksi dengan klien organisasi.
Leblanc dan Nguyen menjelaskan bahwa terdapat lima faktor yang mempengaruhi citra perusahaan, yaitu : “Corporate identity, Reputation, Service oferring, Physical environtment, and Contact personnel“
Lebih lanjut Nguyen dan Leblanc mengungkapkan bahwa terdapat dua komponen utama citra perusahaan, yaitu fungsional dan emosional, dimana komponen fungsional berkaitan dengan atribut yang dapat diukur dengan mudah, sedangkan komponen emosional berkaitan dengan dimensi psycological yang didasarkan pada pengalaman konsumen saat berinteraksi dengan perusahaan.
Menurut Normann dalam Kandampully, citra perusahaan dapat bersumber dari iklan, public relations, kesan, dan pengalaman nyata konsumen dalam menggunakan barang atau jasa. Diantara hal tersebut, yang dianggap paling penting adalah pengalaman nyata konsumen dalam menggunakan barang atau jasa.
Karena itu, setiap perusahaan dapat memiliki lebih dari satu citra tergantung dari kondisi interaksi yang dilakukan perusahaan dengan kelompok yang berbeda, seperti: konsumen, karyawan, pemegang saham, dimana setiap kelompok tersebut mempunyai pengalaman dan hubungan yang berbeda dengan perusahaan.
Dari penjabaran diatas penulis dapat menyimpulkan citra sebagai persepsi masyarakat dari adanya pengalaman, kepercayaan, perasaan, dan pengetahuan masyarakat itu sendiri terhadap perusahaan sebagai aspek fasilitas yang dimiliki perusahaan dan layanan yang disampaikan karyawan kepada konsumen.
Citra tidak dapat direkayasa artinya citra tidak datang dengan sendirinya namun dibangun dan dibentuk oleh masyarakat dari upaya komunikasi dan keterbukaan perusahaan kepada konsumen.

B .2. 2. Manfaat Pembentukan Citra
Menurut Zinkhan ada beberapa alasan yang mendasari pentingnya perusahaan membangun dan mengelola citra perusahaan yaitu : dapat membangun nama baik perusahaan membangun identitas bagi karyawannya mempengaruhi investor dan lembaga-lembaga keuangan memajukan hubungan baik dengan suatu komunitas, dengan pemerintah, dengan tokoh masyarakat dan dengan para opinion leaders mendapatkan posisi dalam persaingan.
B. 3. Efektifitas Komunikasi
Efektifitas adalah pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat dari serangkain alternative atau pilihan cara dan menentukan pilihan lainnya. Efektifitas juga bisa diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan.
Sebagai contoh jika sebuah pesan dapat diterima oleh penerima pesan dengan pemilihan cara-cara yang sudah ditentukan, mak cara tersebut adalah benar dan efektif.

C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut:
“jika program Hallo Polisi terus ditayangkan, maka citra Polri akan meningkat”.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi dan Jadwal Penelitian
Penelitian ini akan diselenggarakan di Jakarta Utara. Jakarta Utara dibagi menjadi 6 kota administrasi yaitu Koja, Kelapa Gading, Tanjung Priok, Pedemangan, Penjanringan, dan Cilincing. Penulis akan memilih Tanjung Priok sebagai lokasi penelitian. Diamna Tanjung Priok memiliki 7 Kelurahan, yaitu Tanjung Priok, Kebon Bawang, Sungai Bambu, Papanggo, Warakas, Sunter Agung, dan Sunter Jaya. Demi menghemat biaya dan waktu penulis akan memilih Papanggo. Penulis akan meneliti warga di RW 06 dan 07 Papanggo.
Penelitian akan dilaksanakan selama 14 hari dari tanggal 5 – 16 September 2011.
B. Design Penelitian
Design yang akan digunakan penulis dalam menyusun skripsi adalah metode deskriftif analisis. Karena penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat maka penulis menggunakan pendekatatan metode survey.
Adapun langkah – langkah yang diambil untuk keperluan penyusunan skripsi ini akan dimulai dengan metode-metode pengumpulan data, operasionalisasi variabel, populasi dan sampel penelitian, teknik analisis data dan pengujian hipotesa.

C. Variabel Penelitian
Veriabel dari penelitian ini adalah komunikasi media, citra dan fektifitas komunikasi.

D. Instrumen Penelitian
Instrumen dari penelitian ini adalah kuesioner yang akan diberikan kepada koresponden untuk mengisinya.

E. Definisi Konseptual dan Definisi Operasional
Citra perusahaan menurut Killer adalah respon konsumen pada keseluruhan penawaran yang diberikan perusahaan dan didefinisikan sebagai sejumlah kepercayaan, ide, dan kesan masyarakat pada sebuah organisasi. Sedangkan citra perusahaan menurut Leblanc dan Nguyen merupakan keseluruhan kesan yang terbentuk di masyarakat tentang perusahaan. Dimana citra tersebut berhubungan dengan nama bisnis, arsitektur, variasi dari produk, tradisi, ideologi, dan kesan pada kualitas komunikasi yang dilakukan oleh setiap karyawan yang berinteraksi dengan klien organisasi.
Dari uraian diatas penulis dapat menyimpulkan citra sebagai persepsi masyarakat dari adanya pengalaman, kepercayaan, perasaan, dan pengetahuan masyarakat itu sendiri terhadap perusahaan sebagai aspek fasilitas yang dimiliki perusahaan dan layanan yang disampaikan karyawan kepada konsumen.

F. Populasi, Teknik Sampling, dan Sampel
Dalam melaksanakan penelitian selalu dihadapkan pada sumber data tertentu yang diharapkan dapat memberikan informasi dan keterangan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Adapun sumber data dalam penelitian sering disebut dengan populasi penelitian.
Populasi dari penelitian ini adalah penonton program Hallo Polisi yang disiarkan di Indosiar pada pukul 08.30 WIB.
Sejalan dengan permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini, teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampel random sampling.
Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 orang. Dimana peneliti akan menemani para sampel menonton siaran program Hallo Polisi yang kemudian memberikan kuesioner.

G. Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data
Teknik – teknik yang akan di gunakan untuk pengumpulan data yaitu:
1. Study Lapangan (Field Reearch),
Yaitu berhubungan langsung dengan objek penelitian dimana pada study lapangan ini dilakukan observasi dan wawancara dengan pihak-pihak yang berwenang di instansi yang bersangkutan, termasuk penyebaran angket (kuisioner) dalam bentuk penyertaan tertutup yang berkaitan dengan masalah diteliti.
2. Studi Kepustakaan (Library Research)
Berupa kegiatan mempelajari dan mengkaji sejumlah literatur seperti buku-buku, jurnal, artikel serta masalah yang diteliti. Hal ini diharapkan dapat memberikan data serta information yang bersifat teoritis mengenai komunikasi media dan citra yang nantinya akan digunakan sebagai landasan teori dalam menunjang pelaksanaan penelitian.
Data yang terkumpul kemudian di proses dan dianalisis. Analisis Data Statistik dilakukan baik secara kuantitatif maupu kualitatif. Analisa Kualitatif dilakukan dengan cara mendeskripsikan responden yang kemudian disajikan dalam bentuk tabel-tabel, sedangkan analia kuantitatif dilakukan dengan menggunakan analisa statistik.
Untuk keperluan tersebut penulis mengumpulkan da mengolah data yang diperoleh dari kuesioner dengan cara memberikan bobot penilaian dari setiap pertanyaan berdasarkan Skala Likert sebagai berikut:

Tabel Skala Likert
Pilihan Jawaban Pertanyaan Bobot atau Skor
Sangat Setuju (SS) 5
Setuju (S) 4
Cukup Setuju (CS) 3
Kurang Setuju (KS) 2
Tidak Setuju (TS) 1

Daftar pustaka
Adya, Atep Barata, “Dasar-Dasar Pelayanan Prima”, Elex Media Komputindo
Jefkins, Frank, “Public relations”, Jakarta : Erlangga

Oleh: mphee89 | Juli 17, 2011

Pembentukan Citra Perusahaan

Pembentukan Citra PT Bank Central Asia, Tbk

1. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini perkembangan perbankan semakin meningkat. Banyak bermunculan bank-bank baru yang membuat persaingan perbankan semakin ketat. Banyak cara yang di tempuh untuk menarik nasabah, seperti pemberian hadiah, souvenir, cash back, dan lain-lain.
Namun dibalik perkembangan yang pesat seperti kita ketahui, beberapa bulan yang lalu baru saja terjadi kasus pembobolan Bank Citibank yang dilakukan oleh karyawannya sendiri. Hal ini tentu akan menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap system perbankan. Hal ini tidak hanya berdampak buruk pada Citibank saja, namun juga berdampak buruk pada bank-bank yang lain seperti Bank BCA.
Banyak nasabah yang mempertanyakan akan keamanan dana mereka. Para nasabah resah akan system perbankan. Nasabah khawatir jika dana mereka tiba-tiba hilang.
Bank BCA melakukan berbagai cara agar kepercayaan nasabah tetap terjaga. Meyakinkan para nasabah jika dana mereka aman. Hal ini dilakukan melalui sosialisasi-sosialisasi, gathering, program Gebyar BCA, serta Welcome to BCA.
Dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan diharapakan dapat tetap menjaga kepercayaan nasabah terhadap kualitas Bank BCA. Hubungan dengan para nasabah juga akan terjalin dengan baik.

2. Pembahasan

2.1. Pengertian Citra

Setiap perusahaan tentu memiliki citra yang disadari atau tidak telah melekat pada perusahan tersebut. Tidak sedikit barang atau jasa yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan memliki citra yang begitu melekat pada benak konsumen.
Killer menjelaskan bahwa,
“corporate image is the consumers response the total offering and is defined as a sum the belief, ideas, and impressions that a public has an organization”.
Artinya citra perusahaan adalah respon konsumen pada keseluruhan penawaran yang diberikan perusahaan dan didefinisikan sebagai sejumlah kepercayaan, ide, dan kesan masyarakat pada sebuah organisasi.
Sedangkan Nguyen dan Leblanc mengungkapakan citra perusahaan sebagai “ corporate image is described as overall impression made on the minds of the public obout organization. It is related to business nsme, architecture, varietyof product/services, tradition, ideology, an to the impression of quality communicatedby each employee interactingwith the organizations clients”
Dapat diartikan citra perusahaan merupakan keseluruhan kesan yang terbentuk di masyarakat tentang perusahaan. Dimana citra tersebut berhubungan dengan nama bisnis, arsitektur, variasi dari produk, tradisi, ideologi, dan kesan pada kualitas komunikasi yang dilakukan oleh setiap karyawan yang berinteraksi dengan klien organisasi.
Menurut Normann dalam Kandampully, citra perusahaan dapat bersumber dari iklan, public relations, kesan, dan pengalaman nyata konsumen dalam menggunakan barang atau jasa. Diantara hal tersebut, yang dianggap paling penting adalah pengalaman nyata konsumen dalam menggunakan barang atau jasa.
Karena itu, setiap perusahaan dapat memiliki lebih dari satu citra tergantung dari kondisi interaksi yang dilakukan perusahaan dengan kelompok yang berbeda, seperti: konsumen, karyawan, pemegang saham, dimana setiap kelompok tersebut mempunyai pengalaman dan hubungan yang berbeda dengan perusahaan.
Dari penjabaran diatas penulis dapat menyimpulkan citra sebagai persepsi masyarakat dari adanya pengalaman, kepercayaan, perasaan, dan pengetahuan masyarakat itu sendiri terhadap perusahaan sebagai aspek fasilitas yang dimiliki perusahaan dan layanan yang disampaikan karyawan kepada konsumen.
Citra tidak dapat direkayasa artinya citra tidak datang dengan sendirinya namun dibangun dan dibentuk oleh masyarakat dari upaya komunikasi dan keterbukaan perusahaan kepada konsumen.

2.2. Marketing Public Relations

Dalam bukunya The Marketer’s Guide to Public Relations, Thomas L Harris mengatakan,
Marketing Public Relations is the process of planning and evaluating programs, that encourage purchase and customer through credible communicayion of information on impression that identify companies and their products with the needs concerns of customers
Secara umum dapat diartikan, Marketing Public Relations adalah suatu proses perencanaan, pelaksanaan dan pengevaluasian sprogram-program yang dapat merangsang pembelian dan keuapasan konsumen melalui komunikasi mengenai informasi yang dapat dipercaya dan melalui kesan-kesan positif yang ditimbulkan dan berkaitan dengan identitas perusahaan atau produknya sesuai dengan kebutuhan, keingian dan kepentingan bagi para konsumennya.
Menurut Thomas L. Harris, pencetus pertama konsep Marketing Public Relations dalam bukunya berjudul The Marketer’s Guide to Public Relations dengan konsepsinya sebagai berikut : “Marketing Public Relations is the process of planning and evaluating programs, that encourage purchase and customer through credible communication of information and impression that identify companies and their products with the needs, concern of customer”.
Marketing Public Relations (MPR) merupakan proses perencanaan dan pengevaluasian program-program yang merangsang pembelian dan kepuasan konsumen melalui komunikasi mengenai informasi yang dapat dipercaya dan melalui kesan-kesan yang menghubungkan perusahaan dan produknya sesuai dengan kebutuhan, keinginan, perhatian dan kepentingan para konsumen. (Ruslan,2002:p.253).
Dari pengertian-pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa Marketing Public Relations merupakan perpaduan pelaksanaan program dan strategi pemasaran (marketing strategy implementation) dengan tkivitas program kerja public relations (work program of Public relations). Dalam pelaksanaannya terdapat tiga strategi penting, yakni
1. Pull strategy, public relations memiliki dan harus mengembangkan kekuatan untuk menarik perhatian publik.
2. Push strategy, public relations memiliki kekuatan untuk mendorong berhasilnya pemasaran.
3. Pass strategy, public relations memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan menciptakan opini publik yang menguntungkan
Jelas, marketing dalam Marketing Public Relations tidaklah dalam pengertian sempit.Tetapi berkaitan dengan aspek-aspek perluasan pengaruh, informative, peusasif, dan edukatif, baik segi perluasan pemasaran ( makes a marketing) atas suatu produk atau jasa, maupun yang berkaitan

2.3. Pembentukan Citra

Sudah sejak lama BCA melakukan kegiatan public relation dengan membuat acara di televisi. Bahkan, saat ini BCA telah memiliki dua program di dua stasiun televisi Yaitu Gebyar BCA di Indosiar dan welcome to BCA. Kedua acara tersebut dimanfaatkan BCA sebagai media komunikasi dan edukasi, sehingga akan tercipta relationship yang kuat dengan customer-nya. Jadi, wajar saja kalau brand BCA menduduki peringkat pertama awareness (top of mind) dalam jajaran bank di Indonesia.
BCA selalu berusaha berinteraksi dengan nasabahnya melalui berbagai cara. Salah satu bentuk komunikasi yang dilakukan BCA adalah melalui Gebyar BCA. Gebyar BCA adalah program televisi yang bersifat edutainment dan dikemas dalam bentuk variety show, disiarkan langsung dari Balai Sarbini-Jakarta, setiap dua minggu sekali pada hari Sabtu, pukul 21:00 – 22:00 WIB.
Melalui program Gebyar BCA, BCA menjalin komunikasi dengan masyarakat Indonesia baik yang sudah menjadi nasabah maupun yang belum. Sebagai kegiatan public relations yang bersifat edutainment, Gebyar BCA menayangkan berbagai informasi mengenai produk-produk dan fasilitas perbankan terbaru, dan bagaimana cara memanfaatkannya, untuk diketahui masyarakat luas.
Acara Gebyar BCA dikemas secara apik dan menarik, dengan menghadirkan bintang-bintang dunia hiburan dari dalam atau luar negeri, dan diselingi komedi juga kuis interaktif berhadiah jutaan rupiah. Gebyar BCA merupakan acara variety show yang pertama yang disponsori secara eksklusif oleh bank dan salah satu acara variety show yang bertahan paling lama.
Selain public relation, perlu juga dilakukan berbagai kegiatan atau event. Misalnya kepada segmen pasar remaja intelektual. Segmen pasar remaja ini, yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan eksekutif muda, merupakan pasar yang cerdas yang mampu mendefinisikan kelebihan-kelebihan perusahaan Anda lebih cepat. Juga, dengan kemampuan intelektualnya, segmen pasar ini akan bisa menjadi influencer atau customer yang mampu mempengaruhi orang-orang disekitarnya untuk bisa menjadi customer.
Selain berbagai kegiatan marketing yang dilakukan, Bank BCA juga membentuk citra dengan cara melakukan kegiatan CSR (corporate social responsibility). Kegiatan yang dilakukan misalnya adalah pemberian zakat pada idul fitri, santunan pada anak yatim dan orang tidak mampu, pemberian hewan kurban, serta mengadakan acara buka puasa bersama orang-orang tidak mampu dan anak yatim.

3. Penutup

Berbagai cara akan terus dilakukan oleh sebuah perusahaan ataupun institusi untuk membentuk, menjaga, bahkan meningkatkan citra. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menjaga kelangsungan dari perusahaan tersebut. Agar perusahaan tersebut tidak tergilas persaingan ditengah perkembangan yang semakin pesat.
Dengan kegiatan-kegiatan marketing public relations yang dilakukan oleh Bank BCA diharapakan akan tetap menjaga dan menjalin hunbungan yang baik dengan nasabah. Karena dengan hubungan yang baik tentu akan menjadikan Bank BCA menjadi bank no. 1 di Indonesia bahkan di Asia.
Dan dengan kegiatan CSR, diharapkan akan dapat menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar. Sehingga setiap cabang BCA dapat diterima dengan baik oleh lingkungan sekitar cabng tersebut.

Oleh: mphee89 | Juli 17, 2011

Etika dan Filsafat Komunikasi

Etika dan Filsafat Komunikasi

Etika
Etika berasal dari kata ta etha yang merupakan bentuk jamak dari ethos yang berarti adat kebiasaan. Secara etimolohgis etika sama dengan kata moral yang berarti adat atau kebiasaan.
Etika memiliki arti :
1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak serta kewajiban moral (akhlak)
2. Kumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
3. Nilai mengenai tindakan yang benar dan salah yanh dianut suatu golongan masyarakat (berfokus pada konteks aksiologinya)
Sebuah teori etika tidak mengatakan pada seseorang apa yang harus dilakukanya pada situasi tertentu, tapi ia juga tidak diam sama sekali. Teori etika mengatakan apa yang harus dipertimbangkan untuk memutuskan apa yang harus dilakukan.
Fungsi praktis dari teori etika adalah untuk mengarahkan perkataan kita pada pertimbangan yang relevan, alasan-alasan yang menentukan atas suatu tindakan.

Filsafat Komunikasi
Definisi filsfat dari beberapa pakar:
1. Plato (427-384 SM), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli.
2. Aristoteles (382-322 SM), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang terkandung didalam ilmu-ilmu (metafisika, logika, etika, retorika, ekonomi, politik, dan estetika).
3. Al Farabi (870-950 M), filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud bagaimana hakekatnya yang sebenar-benarnya. Maujud=kongkrit.
4. Rene Descrates (1590-1650 M), filsafat adalah segala pengetahuan dimana Tuhan, alam , dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
5. Immanuel Kant (1724-1804 M), filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala ilmu pengetahuan yang tercakup didalam 4 persoalan :
• Apakah yang dapat diketahui (jawaban=metafisika)
• Apakah yang seharusnya kita ketahui (jawaban=etika)
• Apakah/sampai dimanakah harapan kita (jawaban=agama)
• Apakah yang dinamakan manusia (jawaban=antropologi)

Menurut I. R. Poedjewijatna filsafat adalah ilmu yang mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Sedangkan filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman secara fundamental, sistematis, analisis, krisis, dan holistic teori serta proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidangnya, sifatnya, tatananya, tujuanya, fungsinya, dan tekniknya serta metodenya.
Cabang Filsafat Dalam Komunikasi:
1. Metafisika
Suatu usaha memperoleh yang benar tentang kenyataan-kenyataan itu luas, maka dibagi menjadi 3 yaitu; ontology (menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental), kosmologi (menyelidiki jenis tata tertib yang fundamental), dan anthropologis (menyelidiki hal yang berkaitan dengan manusiadan pentingnya bagi alam semesta).
2. Methodologis
Metode filsafat yaitu tidak ada yang khas dan bebas cari keterangan.
3. Epistemologis
Logika materiil dimana membahas isi pikiran manusia.
4. Etika
Meliputi kesadaran moral dan kesadaran etis. Dimana kesadaran etis meliputi normatif kritik dan tanggapan.
5. Logika
Berasal dari kata logos yaitu pikiran / pernyataan pikiran. Artinya suatu cara kerja apakah valid tidak valid, bentuk pikiran dan cara kerjanya.
6. Estetika
Terdiri dari komsep penciptaan, pengharagaan, peranan sosial, sikap estetik, kenikmatan estetik, dan tanggapan estetik.

Etika Komunikasi

Tujuan Dimensi-dimensi etika komunikasi
 Nilai-nilai demokrasi
 Hak untuk berekspresi
 Hak public untuk informasi yang benar

Sarana Aksi
 Kesadaran moral atau nurani actor komunikasi
 Deontology jurnalisme
 Tatanan hukum dan institusi
 Hubungan-hubungan kekuasaan
 Tren sosial, komisi pengawasan

Keterangan
1. Etika komunikasi merupakan bagian dari upaya untuk menjamin nilai demokrasi / otonomi demokrasi
2. Etika komunikasi tidak berhenti pada mengelak perilaku aktor komunikasi
3. Etika komunikasi berkaitan juga dengan praktek institusi hukum, komunikasi, sruktur sosial, politik, dan ekonomi serta etika strategi dalam bentuk regulasi.
Tiga prinsip deontologi jurnalisme:
1. Hormat dan perlindungan hak warga negara akan informasi dan sarana-saran ayng perlu untuk mendapatkanya. Masuk dalam kategori ini adalah:
 Perlindungan atas sumber berita
 Pemberitaan informasi yang tepat dan benar
 Jujur dan lengkap
 Perbedaan antara factor dan komentar
 Perbedaan antara informasi dan opini
Sedangkan mengenai cara untuk mendapataknya harus jujur dna pantas serta harus dapat menolak jika hasil curian, menyembunyikan, menyalahgunkan kepercayaan, dengan menyamar pelanggaran terhadap rahasia profesi.
2. Hormat dan perlindungan atas hak individual lain dari warga negara. Termasuk dalam hal ini:
 Hak akan martabat dan kehormatan
 Hak atas kesehatan fisik dan mental
 Hak konsumen dan hak untuk berekspresi dalam media
 Serta hak jawab
Selain itu haru smendapat jaminan hak akan privacy, praduga tak bersalah, hak akan reputasi, hak akan citra yang baik, hak bersuara dan hak untuk rahasia bekomunikasi.jika hak akan informasi tidak bisa member pembenaran pada upaya yang akan merugikan pribadi seseorang. Setiap orang memiliki hak untuk menolak dan mnyebarkan identitasnya.
3. Ajakan untuk menjaga harmoni masyarakat. Unsure ketiga deontology ini melarang semua bentuk provokasi atau dorongan yang akan membangkitkan kebencian atau ajakan pada pembangkangan sipil.
Tujuan etika komunikasi:
1. Untuk membongkar bentuk demokrasi sehingga martabat manusia selalu dihormati
2. Memungkinkan akses keruang public suara yang dibungkam
3. Menentang kebebasan agar bisa mengembangkan kreatifitas
Ada tiga syarat yang memungkinkan etika komunikasi:
1. Media mempunyai kekuasaan yang besar dan berpengaruh terhadap publiknya
2. Etika ingin melindungi public yang lemah
3. Merupakan upaya untuk menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab demi antisipasi terhadap monopoli kritik dari media.

Mengapa Dibutuhkan Etika Komunikasi ?
Media, media massa, dan pers pasti memiliki idealism yaitu memberikan informasi yang benar. Dan media ingin bertindak sebagai sarana pendidikan. Namun idealism diwarnai oleh struktur pemaknaan ekonomi, seperti :
1. Dinamisme komersial, yang menjadi kekuatan dominan penentu makna pesan
2. Pimpinan media
3. Logika mode
4. Logika pasar
5. Logika waktu pendek
Etika komunikasi menjamin kebebasan berkomunikasi di ruang public dan tersedianya informasi yang benar. Etika komunikasi meliputi:
• Kehendak baik wartawan/pelaku informasi
• Konsruksi sosial
• Deontology profesi
Informasi yang benar akan mencerahkan kehidupan manusia. Informasi yang cerah itu memberikan pertimbangan kepada individu dalam mengambil keputusan dari berbagai kemungkinan yang ada. Informasi yang tepat akan menjadi sarana pendidikan yang efektif.
Disinilah etika komunikasi berperan dalam mengontrol media. Media yang menjadi sarana vital untuk memperoleh informasi. Dengan persaingan media ynag berdasarkan logika pasar (berita yang terlambat adalah bukan berita) dapat mengahalangi hak public untuk memperoleh informasi yang benar.
Media dapat mengubah 3 hal, yaitu :
1. Integrasi sosial.
Media menyebarkan gagasan pembebasan tetapi didasari nilai-nilai hedonis (kenikmatan dan kepuasan rasa). Hedonism individualis mengabaikan control sosial dari instansi tradisional sehingga nilai tradisional meredup.
2. Reproduksi budaya
Akan selalu berubah agar bisa tetap efektif untuk bertahan hidup dan bukan untuk tujuan suatu hal yang utopis (kemurnian idealisme)
3. Partisipasi politik
Media menyebutkan gaya hidup dimana system representasi menjadi objek konsumsi. Konsumerisme dan sikap skeptic mudah merubah pandangan seseorang. Identitas seseorang dapat berubah dalam kebebasan yang tidak mengikat.

Oleh: mphee89 | April 3, 2011

Urusan

peraturan pemerintah no. 38

Oleh: mphee89 | November 19, 2009

Haluu Dunia…

Selamat datang di Blog`s nya Mphee, bagi yang blum kenal -salam kenal-, bagi yang sudah kenal…. hai… hai…. hai… ketemu lg..

Blog`s nie.. di khususkan untuk mengerjakan tugas dari dosen, dan untuk pembahasan akan di kerjakan sesegera mungkin ^^…

So.. tunggu pembahasannya nanti oceh…..

Stay tune in my Blog`s at mpheenanovi89.wordpress.com….

See….. ya….. ^^

Kategori